Produsen Bioetanol Minta Kejelasan Pembeli Siaga
Selasa, 21 Nov 2006 17:09 WIB
Jakarta - Produsen bioetanol yang merupakan salah satu bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel meminta kejelasan pemerintah mengenai pembeli siaga biofuel.Produsen juga minta kejelasan formula harga dan volume, regulasi pajak tetes tebu (molase) yang merupakan bahan utama pembuatan etanol, serta insentif bagi petani."Kita meminta adanya pemberian mandat yang jelas untuk pembeli siaga biofuel berikut kebijakan subsidinya, penetapan formulasi harga dan volume yang jelas untuk bioetanol yang diperlukan per tahun, insentif bagi petani untuk membangun infrastruktur pertanian terkait produktivitas bahan baku biofuel, insentif yang jelas bagi produsen biofuel dan regulasi pajak ekspor tetes tebu guna menunjang pengembanagn industri bioetanol," papar Vice President of Sales PT Molindo Raya Industri, Donny Winarno.Hal itu dipaparkan Donny dalam acara Workshop Nasional Bisnis Biodiesel dan Bioetanol di Hotel Le-Meridien, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (21/11/2006). Donny menambahkan, jika pemerintah serius dengan pengembangan biofuel setidakanya bisa mencontek cara Thailand. Negeri Gajah Putih itu memberikan pajak cukai 0 persen untuk bioetanol.Selain itu semua kendaraan pemerintah negeri itu harus menggunakan gasohol dan adanya garansi kendaraan pemakai gasohol dari produsen mobil. Thailand juga melakukan penambahan pompa bensin gasohol dan produsen etanol yang diberikan harga referensi atas dan bawah yang ditentukan dari harga bahan baku tetes dan singkong.Saat ini ungkap Donny, pengembangan bioetanol masih menghadapi kendala. Seperti kesulitan menambah produksi karena para petani masih sangat minim dalam informasi biofuel.Ditambah belum adanya kepastian untuk formulasi harga ke pembeli siaga biofuel dan belum adanya penentuan bentuk insentif yang jelas.Turunnya harga minyak dunia ke US$ 56 per barel juga menyebabkan kondisi harga bioetanol kurang kompetitif. Terlebih kebutuhan tetes tebu yang justru diperlukan dalam negeri, juga masih banyak yang diekspor mencapai 200 ribu ton per tahun."Dengan kondisi bahan baku masih diekspor dan harga minyak turun terus sampai dibawah US$ 50 per barel, produsen bioetanol merasa kondisi ini kurang kompetitif. Kalau bisa tetes tebu diberi pajak ekspor karena harga tetes tebu sudah mencapai US$ 80/MT, saat ini untuk bahan baku saja sudah Rp 3.000 per liter. Idealnya bisa kompetitif apabila harga minyak mencapai U$ 60 per barel," terangnya.Donny menjelaskan, karena kondisi yang serba belum pasti ini rencana perseroan membangun pabrik etanol di Kediri yang bekerjasama dengan PTPN X masih wait and see."Orang mau terjun ke bioetanol sekarang jadi pikir-pikir," tutur Donny.
(ir/ir)











































