IFC dan First Capital Siap Danai Restrukturisasi Tekstil
Senin, 27 Nov 2006 17:23 WIB
Jakarta - Pemerintah meminta dukungan pendanaan dari lembaga pembiayaan asing, yakni International Financial Corporation (IFC) dan First Capital dari Amerika Serikat, untuk program restrukturisasi permesinan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Seiring dengan itu, pemerintah pada 2007 akan mengucurkan dana APBN senilai Rp 255 miliar untuk program tersebut."Permintaan pemerintah kepada IFC dan First Capital itu ditujukan guna membantu pendanaan industri TPT nasional, karena keterbatasan dana pemerintah," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian (Deperin) Ansari Bukhari, dihubungi di Jakarta, Senin (27/11/2006).Lembaga pembiayaan asing itu, lanjut dia, diarahkan untuk mendukung industri TPT nasional yang dinilai tidak bankable tapi feasible dalam program restrukturisasi permesinan. "Artinya, perbankan nasional hanya mau mendanai industri TPT yang dinilai sehat secara finansial. Sebaliknya, banyak industri TPT yang masih memungkinkan masuk program tersebut, tapi masih menghadapi sejumlah kendala keuangan. Ini yang termasuk bantuan dari IFC dan First Capital. Apalagi, mereka tidak takut mengucurkan kredit," papar Ansari.Pemerintah RI, kata dia, telah meminta bantuan pendanaan kepada kedua lembaga pembiayaan asing tersebut. "IFC dan First Capital sudah menyatakan kesiapan memberikan bantuan. Tapi kami belum menentukan kisarannya. Rencananya, itu akan difinalisasi pada pertemuan berikutnya awal 2007," ucapnya.Menurut dia, dana pemerintah sebesar Rp 255 miliar pada 2007 dinilai sangat terbatas untuk mendanai program restrukturisasi permesinan TPT. Soalnya, kebutuhan industri TPT untuk merestrukturisasi permesinan mencapai US$ 5 miliar dalam waktu lima tahun dalam periode 2006-2011."Dana pemerintah itu hanya 10 persen dari kebutuhan dana restrukturisasi secara total. Jadi diperlukan bantuan dari lembaga pembiayaan asing," tuturnya.Ansari menambahkan, jika program restrukturisasi permesinan TPT pada tahap awal berhasil, pemerintah menargetkan alokasi dana program tersebut akan meningkat. Tahun depan, dana program ini dapat mencapai Rp 500 miliar. "Secara total, pemerintah merencanakan program ini selama lima tahun ke depan. Tapi, bergantung keberhasilan tahap awal," paparnya.Dia menerangkan, 20 perusahaan tekstil skala besar telah mendaftar program restrukturisasi ini. Dari ke-20 perusahaan itu, ada yang mengajukan proposal pinjaman sekitar Rp 35-100 miliar. Bahkan, ada yang mengajukan pinjaman melebihi target. "Namun, pemerintah menetapkan batas pinjaman untuk industri besar senilai Rp 100 miliar," ucapnya.Pemerintah telah memutuskan batas pinjaman dalam program ini untuk skema pertama yakni sebesar Rp 100 miliar. Pinjaman sebesar itu akan mendapatkan bantuan dana dari pemerintah sebesar Rp 10 miliar. Sedangkan untuk skema kedua, perusahaan tekstil skala menengah kecil akan mendapat pinjaman dengan batas Rp 10 miliar.
(arn/ir)











































