Indonesia Tidak Bisa Jamin Suplai Gas Jepang

Indonesia Tidak Bisa Jamin Suplai Gas Jepang

- detikFinance
Selasa, 28 Nov 2006 14:43 WIB
Jakarta - Indonesia saat ini tidak dalam posisi menjamin suplai energi negara manapun. Termasuk tidak bisa menjamin suplai gas ke Jepang.Indonesia memprioritaskan penggunaan gas untuk dalam negeri karena saat ini kebutuhan domestik banyak yang tidak terpenuhi.Situasi tersebut membuat Indonesia menolak gagasan Jepang dalam Economic Partnership Agreement (EPA) tentang energi dan sumber daya mineral. Pasalnya dalam bab tersebut berisi komitmen, Indonesia harus berjanji akan terus memberikan kontinuitas suplai energi ke Jepang. Setidaknya kuantitasnya sama dengan jumlah kontrak yang ada sekarang."Masuknya chapter energi dan sumber daya mineral adalah gagasan Jepang yang meminta komitmen suplai energi, artinya tidak akan kurangi jumlah ekspor kita. Dalam hal ini kita keberatan kecuali komitmen bagi kontrak yang telah ditandatangani," kata Halida Miljani, Staf khusus Kerjasama Internasional, Departemen Perdagangan.Hal itu disampaikan Halida, menjelaskan pertemuan EPA yang dilakukan para menteri termasuk Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jepang, saat konferensi pers di Departemen Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa (28/11/2006). "Kita sulit menyanggupi karena kita sendiri kesulitan suplai energi untuk domestik, dan saat ini kita tidak sedang dalam posisi menjamin suplai energi negara manapun," jelas Halida.Selain alasan untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri, adanya perjanjian kontinuitas suplai, menurut Halida, justru akan merugikan Indonesia sendiri."Mengenai kontrak gas tidak dibahas langsung dalam EPA tapi dibahas dalam bilateral diluar EPA, yang terpenting dalam EPA ini adalah kesediaan Jepang untuk membantu program terkait konservasi energi dan eksplorasi energi yang baru," terang Halida.Halida menjelaskan, setiap kontrak ada term of condition, namun tampaknya tidak ada niat dari pemerintah untuk meniadakan kontrak.Indonesia hanya menginginkan kontrak tersebut disesuaikan dengan kondisi pada saat kontrak itu dibuat."Apabila kedua belah pihak sepakat dengan term of condition yang ada sekarang kemungkinan akan ada kontrak yang baru," ujar Halida. (arn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads