PLN Rencanakan Tarif Berbeda Tiap Daerah
Kamis, 30 Nov 2006 13:47 WIB
Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara ( PLN) tengah mewacanakan untuk menetapkan tarif regional. Nantinya tarif listrik di tiap-tiap daerah akan berbeda-beda sesuai dengan kemampuan ekonomi konsumen PLN di wilayah itu."Tarif regional adalah salah satu dari tarif. Kita ingin mencari masukan mengenai tarif regional," kata Dirut PLN Eddie Widiono Suwondho, di Kantor PLN Pusat, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis (30/2006).Eddie mengatakan, dengan pengenaan tarif regional diharapkan juga para investor akan lebih bersemangat untuk membangun pembangkit listrik terutama dengan menggunakan energi terbarukan. Sebab, investor saat melakukan investasi akan melihat faktor keekonomian dari tarif tersebut."Kita berharap daerah yang sulit kita kembangkan kelistrikannya. Mungkin kalau dikasih tarif regional di daerah itu bisa muncul pembangkit listrik," katanya."Kalau satu pulau dengan PLTD dan tarif regional, apalagi pulau tanpa kegiatan bisnis, tarifnya akan cukup tinggi dan berat bagi masyarakat. Diberi PLTS (Surya) tidak akan cukup fleksibel," ujarnya.Eddie mengatakan, saat ini PLN belum berencana untuk menetapkan tarif regional untuk Jakarta. Namun PLN berharap tarif regional akan bisa berkembang. "Kita ingin daerah yang tumbuh cepat memiliki potensi itu. Seperti daerah yang telah mengenakan tarif regional seperti Batam yang dekat dengan Singapura. Di Riau juga begitu, Tarakan juga Kaltim," ujarnya. Eddie juga melihat, harapan masyarakat sangat tinggi mengenai energi terbarukan. "Kita dengan segala keterbatasan berusaha menyambung harapan tersebut," ujarnyaEddie mangatakan, saat dia berkunjung melihat kondisi kelistrikan di sejumlah wilayah di Indonesia, masih banyak masyrakat yang tidak mendapatkan listrik. Contoh, di Jawa Barat bagian Selatan saat ini tegangannya rendah hanya sekitar 16 kv. "Ini seharusnya bisa diatasi jika kita bangun transmisi. PLN bangun transmisi ke sana. Tapi ternyata ada potensi mini hidro di sana. Kalau itu dikembangkan dia akan menaikkan tegangan di situ," ujaranya.Solusi seperti inilah kata Eddie, yang nantinya akan dikembangkan. Karena untuk beberapa daerah tertentu yang sebenarnya tidak membutuhkan pasokan listrik yang tidak terlalu besar, tidak perlu membangun pembangkit besar."Contohnya satu pulau yang membutuhkan listrik kurang dari 1 MW. Maka tidak perlu bangun PLTU batubara. Akhirnya orang tetap lari pada PLTD," ujarnya.
(mar/ir)











































