PMDN Sektor Industri Mesin Anjlok 99% Tahun 2006

PMDN Sektor Industri Mesin Anjlok 99% Tahun 2006

- detikFinance
Senin, 04 Des 2006 17:45 WIB
Jakarta - Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di kelompok industri mesin hingga akhir 2006 dipastikan anjlok hingga 99 persen atau menjadi hanya Rp 4,5 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 336 miliar.Sedangkan investasi asing (PMA) di kelompok industri yang sama hingga akhir 2006 melorot 38,4 persen menjadi US$ 400 juta, dibanding tahun sebelumnya yang mencapai US$ 649 juta. Demikian dikatakan Direktur Industri Mesin Departemen Perindustrian Chanty Triharso dalam konferensi pers tentang Pameran 'Machine Tool and Manufacturing Indonesia' di Departemen Perindustrian, Jakarta, Senin (4/12/2006). Menurut Chanty, anjloknya investasi di sektor industri mesin itu dipicu oleh instabilitas ekonomi yang terjadi pada akhir 2005 dan berlanjut pada 2006 akibat kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, anjloknya realisasi investasi PMDN juga dipicu oleh keengganan perbankan nasional membiayai rencana investasi di industri mesin nasional. "Investasi dalam negeri tahun ini seret. Tapi saat ini kami sedang berupaya mencari akses ke mereka. Hal ini penting karena pemerintah menilai program-program investasi kelompok industri ini sangat bagus. Pemerintah akan siap menjadi mediator," kata Chanty.Berdasarkan data yang diolah Ditjen Industri Mesin Logam Tekstil dan Aneka Depperin, realisasi penanaman modal lokal pada 2006 hanya terjadi pada industri mesin proses sebesar Rp 75 juta dan industri alat penunjang senilai Rp 3,5 miliar. Sementara itu, pada industri konstruksi baja, alat konstruksi, mesin pertanian, mesin alat energi, mesin kelistrikan, dan RBPI, selama semester I/2006 tidak terjadi penambahan investasi. "Hingga akhir 2006, penambahan investasi hanya terjadi di industri mesin proses yang diperlukan antara lain oleh sektor tekstil [TPT]," paparnya. Untuk PMA yang kemungkinan US$ 400 juta hingga akhir 2006 dapat terwujud karena investor asing mulai percaya dengan kondisi perekonomian dalam negeri yang mulai menunjukkan perbaikan yakni suku bunga Bank Indonesia yang hampir berada pada level satu digit, dan penurunan harga minyak dunia. Dia menambahkan, pada semester I/2006 terjadi penambahan investasi di industri alat berat komponen asal Jepang dari grup Hinabi yang mencapai US$65 juta. Hinabi, sambung dia, ingin menjadikan Indonesia untuk pengembangan industri komponen dan alat berat. Di tempat yang sama, Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menjelaskan investasi di bidang permesinan akan diberikan fasilitas insentif sesuai PP No.148/2000. Pasalnya, saat ini pemerintah sedang memprioritaskan kelompok industri ini karena potensi ekspor dan terkait rencana pemerintah mewujudkan proyek pembangunan PLTU 10.000 megawatt (MW). "Yang membanggakan, ekspor di industri ini berkembang cukup baik yakni mencapai hampir US$2 miliar pada 2005, sementara hingga semester I/2006 sudah mencapai US$700 juta," kata Ansari. (arn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads