Digelontorin Berapa pun, Orang Pasti Antre Minyak Tanah

Digelontorin Berapa pun, Orang Pasti Antre Minyak Tanah

- detikFinance
Selasa, 05 Des 2006 16:13 WIB
Jakarta - Kelangkaan minyak tanah bak penyakit kambuhan. Tanpa 'obat' yang jitu, minyak tanah pasti akan langka kendati sudah digelontorkan sedemikian banyak."Ya antrean sih pasti, wong orang ngantre terus, nggak habis-habisnya. Mau kita gelontorin berapa pun, orang pasti antre," jelas Dirut Pertamina Ari Soemarno usai seminar 'Reformasi Birokrasi' di Hotel Sari Pan Pasific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (5/12/2006).Ari menjelaskan, minyak tanah memang sudah diberi kuota untuk distribusinya. Namun sayangnya, tak ada penjatahan dalam pembeliannya."Semua beli, anak kecil disuruh gurunya saja sampai ikut antre. Jadi berapa pun kita gelontorkan, pasti habis. Karena orang berkali-kali antre meski cuma dijatah lima liter-lima liter, tapi berkali-kali antre pun boleh," ketusnya.Tanpa antisipasi yang tepat atas banyaknya antrean itu, lanjut Ari, minyak tanah akan terus langka. "Harus ada sistem baru," tegasnya.Pertamina sebetulnya hanya bertanggung jawab menurut Keppres 55/2005 tentang Kenaikan Harga BBM dan Perpres 71/2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian BBM Jenis Tertentu. Namun Pertamina hanya bertanggung jawab sampai depot."Karena itu Pertamina tidak melakukan perubahan sistem semenjak keluarnya Perpres ini pada Oktober 2005. Karena tanggung jawab hilir di tangan Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas. Jadi kita menunggu," jelasnya.Menurut Ari, Pertamina mengusulkan kartu kendali untuk mencegah permintaan yang berlebihan itu. "Jadi ada yang berhak dan tidak. Kalo sekarang, semua orang sudah pakai. Anda lihat, itu tadinya hanya untuk rumah tangga dan UKM, tapi sekarang nelayan juga pakai," tambahnya.Ari menjelaskan, ada tiga faktor yang menyebabkan kebocoran minyak tanah yakni penyalahgunaan dalam arti dia menjualnya ke industri, pengoplosan artinya dicampur dengan bahan-bahan lain, dan penimbunan dalam arti spekulasi.Mengenai kuota saat ini sebanyak 10 juta kiloliter, lanjut Ari, sebenarnya bisa mencukupi jika diatur dengan benar. "Tapi kalo nggak diatur, dan dijual bebas, ya orang mengantre terus karena punya kesempatan untuk mengoplos, menimbun," tandasnya. (qom/sss)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads