RI Makin Tak Menarik di Mata Investor Jepang
Selasa, 05 Des 2006 17:39 WIB
Jakarta -
Investasi Jepang ke Indonesia terus turun. Di mata para investor Jepang, Indonesia memang makin tidak menarik seiring belum membaiknya pelayanan dan kepastian hukum.Berdasarkan survei yang dilakukan Japan International Cooperatioan Agency (JICA) terhadap pengusaha terkemuka Jepang, peringkat Indonesia sebagai negara tujuan investasi terus turun dari tahun ke tahun.Jika pada tahun 2005 Indonesia menduduki peringkat ke-8, pada tahun 2006 turun 1 peringkat ke posisi 9. Pengusaha Jepang menilai Indonesia belum meningkatkan pelayanan baik cukai, perpajakan, infrastruktur, ketenagakerjaan maupun kepastian hukum. Hal tersebut disampaikan Ketua BKPM M Lutfi dalam rapat dengan Komisi IV di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/12/2006).Menurut Lutfi, keadaan tersebut mengkhawatrkan. "Kalau tidak diperbaiki, tahun depan bisa turun lagi," ujarnya.Saat ini, pengusaha Jepang lebih memilih Cina, Thailand, Vietnam atau Singapura untuk berinvestasi sebelum akhirnya terdampar ke Indonesia. "Kalau dulu sebelum krisis negara kita nomor 3 tujuan investasi," ungkap Lutfi.Berdasarkan data BKPM, pertumbuhan investasi Jepang ke Indonesia tercatat minus 61,13 persen. Pada periode Januari-November 2006, nilai persetujuan investasi Jepang mencapai US$ 430,2 juta, dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu US$ 1,106 miliar. Dalam kesempatan kunjungannya ke Tokyo pekan lalu, pemerintah Indonesia sudah meminta kesediaan Jepang untuk meningkatkan investasinya. Jika Jepang bersedia, maka Indonesia berpikir untuk memperpanjang kontrak gasnya ke Jepang.Selain Jepang, investasi Cina ke Indonesia juga mencatat pertumbuhan negatif yakni minus 43,22 persen. Hingga November 2006, nilai persetujuan investasi Cina ke Indonesia mencapai US$ 114,8 juta, dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 202,2 juta. Menurut Lutfi, penurunan ini terjadi karena investor Cina hanya tertarik untuk investasi di sektor sumber daya alam. Dengan diperlambatnya pertumbuhan industri Cina, maka menurun pula permintaan bahan baku. Namun untuk tahun 2007, BKPM optimistis investasi dari Cina akan melesat setelah adanya kesepakatan investor listrik Cina dengan PLN untuk berinvestasi di Indonesia. Hitungan kasar sementara, setidaknya Cina akan menginvestasikan sebesar US$ 4 miliar di sektor tersebut.
(qom/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































