Investasi Menunggu Godot

Investasi Menunggu Godot

- detikFinance
Kamis, 14 Des 2006 11:54 WIB
Jakarta - Investasi merupakan salah satu faktor dalam pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, investasi belum bisa dijadikan andalan pertumbuhan karena masih menumpuknya persoalan yang menghambat iklim investasi.Pungutan liar, masalah pajak, infrastruktur yang lemah, masalah perburuhan, dan segudang persoalan lain yang mengakibatkan investor malas menanamkan modalnya di Indonesia.Realisasi investasi pada tahun 2006 masih minim, bahkan cenderung turun dibanding tahun lalu. Pemerintah beralasan, investasi di sektor riil masih kurang karena sedikitnya 5 faktor faktor.Pertama, rendahnya komitmen berinvestasi pada tahun 2004-2005. Kedua kenaikan harga BBM di Oktober 2005 yang menyebabbkan kenaikan nilai dan biaya produksi. Ketiga krisis listrik di 10 wilayah, kelima krisis gas di Jawa Barat dan Jawa Timur serta masalah perburuhan.Untuk mengatasi rendahnya investasi, pemerintah pada 28 Februari 2006 mengeluarkan paket kebijakan investasi. Namun paket ini pun belum mulus semuanya. Hingga akhir tahun 2006, dari 85 target tindakan kebijakan, baru 64 tindakan yang sudah dilaksanakan, atau baru 75 persen.Pemerintah pun meminta bantuan DPR untuk segera menuntaskan beberapa RUU yang masih dibahas, antara lain RUU Perpajakan, dan RUU Penanaman Modal.Bank Indonesia pun ikut mencermati masalah ini. Deputi Gubernur Senior BI Miranda Gultom menyebut investasi swasta ibarat menunggu sesuatu yang belum pasti. "Satu hal yang belum muncul, waiting for godot, investasi swasta masih belum menunjukkan perbaikan yang berarti," ujarnya saat memberikan pidato dalam acara 'Financial Award', di Hotel Four Seasons, HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (13/12/2006) malam.Namun Miranda yakin investasi tahu depan akan membaik. Dengan pemerintah sebagai leading factor. "Investasi tahun depan akan didukung oleh pengeluaran investasi pemerintah yang ekspansif," ujarnya.Keyakinan Miranda pun diamini oleh Pejabat kepala Badan Koordinasi Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu. Menurut Anggito, persetujuan investasi dalam 6 bulan terakhir menunjukkan peningkatan yang berarti."Persetujuan yang nanti akan direalisasikan tahun berikutnya. Impor barang modal, memang sangat rendah, Mei, Juni, Juli kecil. Tetapi kalau persetujuan 6 bulan terakhir tinggi. Ini kita harapkan menjadi sumber investasi tahun 2007. Investasi baru kan ada lack waktu 3-6 bulan,"ujarnya.Selain itu, mulai Januari 2007 akan diterapkan Peraturan Presiden yang mengatur insentif perpajakan untuk investor baru. Sehingga diharapkan persetujuan investasi yang tinggi itu bisa menjadi kenyataan tahun depan. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads