Indonesia Berpeluang Ambil Pasar Cina 2007
Rabu, 20 Des 2006 11:46 WIB
Jakarta - Pemerintah Cina mulai tahun depan tidak akan memberikan fasilitas pengembalian pajak ekspor (export rebate) kepada pengusahanya. Kondisi ini akan membantu Indonesia bersaing dengan Cina, karena dengan kebijakan itu produk Cina akan jauh lebih mahal."Sebentar lagi yang disebut export rebate yang selama ini eksportir RRT mendapatkan kembali pajak ekspornya mulai tahun depan mereka tidak lagi mendapat pengembalian pajak ekspor. Inilah yang membuat ekspor RRT akan lebih mahal daripada sekarang. Itu akan membantu kita bisa bersaing dengan RRT," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.Hal itu diungkapkan Mari, disela-sela acara penganugerahan penghargaan Primaniyarta Award 2006, di Jakarta Convention Center (JCC) Selasa (19/12/2006) malam.Mari menambahkan, dengan adanya kebijakan pemerintah Cina itu, maka dengan sendirinya pembeli yang memesan dari Cina banyak yang sudah beralih ke Indonesia. Mari berharap pertumbuhan kinerja ekspor 2007 sama seperti tahun ini. Tapi dengan kenyataan tahun depan ada perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, jika tidak ada investasi yang meningkat akan sulit dipertahankan kinerjanya.Menurut Mari, kalau investasi naik, Indonesia bisa mempertahankan pertumbuhan ekspor, dengan angka konservatif pertumbuhan ekspor 2007 sebesar 10-12 persen.Sementara sektor yang difokuskan tahun depan adalah sektor yang tahun ini dinilai kinerjanya baik seperti kelapa sawit, karet, batubara dan migas.Sektor usaha ini diprediksi kinerjanya akan tetap naik karena permintaan yang tinggi dari berbagai negara seperti RRT dan India.Sedangkan sektor manufaktur yang akan difokuskan adalah otomotif, elektronik, tekstil dan produk tektsil (TPT) dan alas kaki.
(ir/ir)











































