Industri Minuman Lebih Terpukul Isu Pengawet Ketimbang BBM
Kamis, 21 Des 2006 15:17 WIB
Jakarta - Penjualan minuman menjelang natal dan tahun baru diprediksi turun drastis akibat isu pengawet. Beberapa produsen bahkan sudah tidak berproduksi. Kondisi ini lebih parah ketimbang saat kenaikan BBM pada tahun lalu. "Ini bahkan lebih buruk dibanding pengaruh naiknya BBM tahun lalu," ungkap Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) saat dihubungi detikcom, Kamis (21/12/2006).Penemuan beberapa minuman yang mengandung bahan pengawet oleh BPOM beberapa waktu lalu ternyata membuat masyarakat bingung. Walau pengawet yang ditemukan masih dalam batas aman, ternyata masyarakat memilih untuk lebih berhati-hati."Merek-mereknya kan hampir sama, akhirannya tea-tea, gitu. Jadi masyarakat tidak bisa membedakan. Akhirnya mereka memilih untuk tidak beli, termasuk (minuman) yang tidak dalam list," ungkapnya.Isu yang masih santer hingga menjelang Natal dan Tahun Baru ini membuat konsumsi masyarakat turun. Ini juga diperparah dengan naiknya harga beras, minyak, dan gula. Lebih lanjut Thomas mengungkapkan, naiknya harga beras yang disebabkan kekeringan. Keterlambatan hujan membuat panen juga mundur hingga dua bulan. Stok kosong dalam jangka waktu itu membuat harga beras pun melambungThomas menambahkan, menjelang natal dan tahun baru, kemungkinan akan ada kenaikan harga makanan dan minuman antara 5-15 persen. Namun menurutnya, kenaikan harga akan dimulai dari barang-barang golongan menengah keatas. Hal ini karena masyarakat menengah ke bawah mengalami penurunan konsumsi akibat alokasi dana yang terserap untuk beras.Kedepannya, Thomas mengusulkan tiga poin yang sebaiknya dilakukan pemerintah. Pertama, pembukaan impor yang diiringi penurunan bea masuk. Ia juga menghimbau agar DPR tidak memprotes hal tersebut. Kedua, perlu adanya strategi baru untuk mengatasi kekeringan dengan mengedepankan sistem irigasi yang lebih baik. Ketiga, pemerintah harus berupaya maksimal untuk mengimbangi isu-isu pengawet yang telah merugikan produsen minuman.Thomas memrediksi tahun depan diperkirakan volume konsumsi akan naik, namun beralih ke merek-merek yang lebih berorientasi ke pangsa pasar golongan bawah.
(qom/qom)











































