Meleset dari Target 2006
Pertumbuhan Industri Hanya 5%
Kamis, 21 Des 2006 18:17 WIB
Jakarta - Pertumbuhan industri pada tahun 2006 diprediksi hanya 5 persen, atau lebih rendah dari target sebesar 6 persen. Angka itu didasarkan pada pertumbuhan ekonomi 2006 sebesar 5,8 persen.Prognosa ini juga didasarkan pada asumsi pertumbuhan investasi yang yang relatif masih rendah, dan sektor riil yang belum pulih. Sementara dari sisi moneter telah mengindikasikan perbaikan misalnya dari sisi BI Rate yang semakin rendah.Demikian disampaikan Sekjen Departemen perindustrian Agus Tjahayana saat jumpa pers akhir tahun 2006 di Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (21/12/2006).Pertumbuhan industri masing-masing sektor di tahun 2006 adalah: makanan dan minuman (4,8%), tekstil, barang kulit dan alas kaki (1,5%), barang kayu dan hasil hutan (-2%), kertas dan barang cetakan (0,4%).Sedangkan pupuk, kimia dan barang dari karet (5,3%), semen dan barang galian non logam (-1.5%), logam dasar, besi dan baja (5,6%), alat angkut, mesin dan peralatan (9%), barang lainnya (4,35%) sehingga total rata-rata pertumbuhan industri (5%).Untuk tahun 2007, sektor industri diharapkan tumbuh sebesar 7,9 persen, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,7 persen. Rinciannya adalah, industri makanan, minuman dan tembakau (5%), tekstil barang kulit dan alas kaki (4,5%), barang kayu dan hasil hutan (4%), kertas dan barang cetakan (6,8%).Sementara pupuk, kimia dan barang dari karet (8%), semen dan barang galian non logam (7%), logam dasar, besi dan baja (6%), alat angkut, mesin dan peralatan (12,4%), barang lainnya (6,2%).Menurut Agus, untuk mencapai target pertumbuhan industri itu hanya bisa dicapai bila berbagai masalah di sektor industri yang menyebabkan penurunan daya saing dapat segera diperbaiki secara menyeluruh.Dan untuk mencapai hal tersebut, lanjut Agus, perlu terobosan kebijakan yang bisa memberi dampak signifikan pada peningkatan daya saing industri."Kami optimis pertumbuhan 7,9 persen karena pada tahun 2007 konsumsi terealisasi dari yang menahan pembelian pada 2005 dan 2006. APBN mulai cair indikasi dan proyek infrastruktur yang menggeliat," jelasnya.
(arn/qom)











































