Wawancara Khusus Mari Pangestu (3)
Kisah EPA dan Kontrak Gas Jepang
Jumat, 22 Des 2006 13:14 WIB
Jakarta - Kesepakatan awal Economic Partnership Agreement (EPA) antara Indonesia dan Jepang seringkali dianggap sebagai sebuah angin surga belaka. Kesepakatan terkait EPA itu dituding hanya sebagai jalan untuk memuluskan perpanjangan kontrak Gas Indonesia ke Jepang.Benarkah itu semua?Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memberikan jawabannya dalam wawancara khusus dengan detikcom di ruang kerjanya, Gedung Departemen Perdagangan, Jalan Ridwan Rais pada Rabu (20/12/2006) lalu.Ada anggapan perjanjian awal EPA hanya agar Jepang dapat gas dari Indonesia ?Maka itu kita harus pinter-pinter negosiasi. Dia memang inginkan itu, tapi didalam EPA kita tak mau mengunci dalam arti dia akan mendapat berapa persen gas. Kita anggap gas kontrak itu business to business.Produk apa saja yang akan dimasukan dalam sensitive list dalam EPA ?Produk yang kita anggap selama ini sensitif seperti beras, gula dan produk pertanian yang lain. Dan produk manufaktur yang masih sensitif seperti besi baja, tapi kita tetap berikan yang masih belum kita produksi dan kita butuhkan untuk industri otomotif.Target peningkatan investasi dan perdagangan dalam EPA ?Belum persis angkanya karena perdagangan tergantung investasi. Juga jangan dilihat bilateral dalam arti kita harapkan investasit dari Jepang, bukan untuk menjual kembali ke pasar Jepang, tapi kita menjadi bagian dari ekspor base. Jadi ekspornya bisa kemana mana, bisa ke Eropa, Asia dan lainnya. Yang perlu diliat dampak dari keseluruhannya.Potensi tenaga kerja kita ke Jepang dengan EPA ?Di Jepang masalah utama aging population orang tua disana banyak yang harus diurusi. Dia perlu tenaga juru rawat dan healthcare workers. Di dalam negerinya perdebatan cukup panjang tentang orang asing yang bekerja di Jepang termasuk di pabriknya. Dia (Jepang) sebetulnya kekurangan tenaga kerja, tapi kini pengaturan tenaga kerja asing ketat disana.WTO bisa capai kesepakatan ?Window of opportunity pada paruh pertama 2007. Mungkin bulan Januari ini bisa tahu benar benar perundingan WTO bisa mulai lagi atau tidak. Pada akhir Januari akan ada pertemuan. Yang Indonesia harapkan penurunan tarif produk-produk yang relatif tarifnya masih tinggi seperti TPT dan sepatu, yang telah kita peroleh dalam EPA jepang. Jasa kita tidak terlalu dapat manfaat karena kita tidak kompetitif dalam service.
(qom/qom)











































