PHK Sektor Tekstil 2007 Terus Berlanjut
Jumat, 22 Des 2006 18:04 WIB
Jakarta - Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan di sektor tekstil masih akan berlanjut di tahun 2007, karena masih minimnya investasi asing yang masuk di industri tekstil.Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan buruh pabrik tekstil di 2007 akan semakin banyak yang terkena PHK. Pada tahun 2004, tenaga kerja sektor tekstil sebanyak 5.557.353 orang, namun angka itu menurun pada 2005 menjadi 5.524.560 orang. Kemudian kembali berkurang pada tahun 2006 sebanyak 5.519.607 orang."Pada 2007 masih terjadi lay off tenaga kerja meskipun jumlahnya menurundibandingkan tahun sebelumnya," ungkap Ketua Umum API, Benny Soetrisno.Hal itu diungkapkan Benny, saat konferensi pers kinerja industri TPT 2006, serta proyeksi dan kondisi lingkungan bisnis 2007, di kantor API, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (22/12/2006).API menuding enggannya investor memasukan dananya ke sektor manufaktur yang padat karya seperti tekstil, karena investasi ke pasar uang seperti obligasi, SUN dan ORI lebih menguntungkan. "Tidak adanya pengaturan pasar uang dengan hanya melempar ke pasar, tidak memberi harapan ke sektor riil, tapi ini sah-sah saja karena orang cari untung ketimbang ke sektor riil," kata Benny.Selain itu masalah utama di pasar domestik adalah kalah bersaingnya produk dalam negeri dengan produk impor terutama penjualan pakaian jadi dan dan kain lembaran. Para retailer pun kian hari makin senang menjual barang ilegal karena lebih murah sebagai akibat dari tidak dibayarkannya bea masuk, PPN dan PPH.Kondisi inilah yang mengakibatkan indeks volume produksi tekstil setiap tahun terus menurun hingga terpuruk pada indeks 65 tahun 2006 (index 2001 mencapai 100). Sehingga secara keseluruhan sejak 5 tahun terakhir termasuk di tahun 2006 kinerja industri TPT dikatakan turun.Saat ini pasar tenaga kerja di sektor TPT adalah 12 persen dari pasar seluruhtenaga kerja industri dan manufaktur yang menyerap 15 persen dari total tenaga kerja di seluruh sektor. "Investasi asing lebih memilih menanamkan uangnya di sektor mining, padahal penyerapan tenaga kerja di sektor mining hanya 1 persen," ungkapnya.Meski dihinggapi berbagai masalah yang menghambat dalam lima tahun terakhir kinerja ekspor sektor TPT memperlihatkan grafik menanjak. Ekspor terus tumbuh rata-rata 8,4 persen hingga US$ 8,6 miliar di tahun 2005. Tahun ini diestimasikan total ekspor TPT akan mencapai sekitar US$ 9,47 miliar. Sedangkan tahun 2007 ditargetkan nilai ekspor mencapai US$ 10,6 miliar atau naik 12 persen dibanding 2006.Dalam dua tahun terakhir terjadi kenaikan kinerja ekspor yang lebih disebabkan dorongan faktor eksternal, yaitu diterapkannya sangsi safeguard bagi produk Cina di AS dan Uni Eropa (UE). Sehingga di tahun 2006 nilai ekspor ke AS dan UE diestimasikan naik masing-masing 27 persen dan 3 persen.
(arn/ir)











































