Beratnya Berbagi Bisnis Avtur

Wawancara Khusus Dirut Pertamina (4)

Beratnya Berbagi Bisnis Avtur

- detikFinance
Selasa, 02 Jan 2007 14:10 WIB
Beratnya Berbagi Bisnis Avtur
Jakarta - Setelah membuka keran bisnis pompa bensin kepada asing, pemerintah jugaberencana melepas monopoli Pertamina dalam pemasaran bahan bakar pesawatterbang atau avtur.Namun Pertamina terlihat masih berat berbagi bisnis avtur. Bukan karenatak sudi berbagi pasar, tapi lebih karena Pertamina menginginkan pihakasing juga tak hanya mengambil jalur bandara yang gemuk.Untuk mengetahui kenapa Pertamina 'menolak' berbagi pasar avtur, Tim detikfinance Maryadi, Irna Gustiawati dan Alih Istik Wahyuni mewawancarai Dirut Pertamina Ari H Soemarno di ruang kerjanya Gedung Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur 1A, Jakarta. Selasa (26/12/2006).Pemerintah akan membuka pasar avtur untuk semua pemain, tapi Pertamina masih keberatan, apa masalahnya ?Kita hanya minta pada pemerintah untuk berlaku adil pada Pertamina. Kita senang dibuka. Pertamina kini harus memelihara 54 depot pengisian pesawat udara di seluruh Indonesia. Dari 54 itu yang memiliki skala keekonomian baik paling hanya 5-10 seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Makasar, Balikpapan. Yang lainnya keekonomiannya kecil, tapi kita harus tangani seperti bandara-bandara perintis dan bandara lain Jayapura, Pontianak, Manado, Jambi, Solo, Yogya, Bandung, Pulau Bima, Kupang, Flores, Sumbawa.Kita ingin treatment-nya harus sama seperti yang lain. Tapi ini nggak. Kalau di tempat yang 6 itu dibuka, saya minta seluruh Indonesia juga dibuka. Jangan ambil yang gemuk saja. Karena kita jual yang di Jakarta dan di Jayapura bedanya cuma Rp 300 rupiah. Sedangkan menurut keekonomiannya harusnya Rp 300 lebih.Saya melihat, jangan samakan kita dengan Singapura yang hanya punya satu bandara. Semua pesawat masuk ke situ, terbang internasional. Omsetnya di Singapura 4,2 juta kiloliter per tahun hanya satu kota. Omset di seluruhIndonesia hanya 2,5 juta kiloliter per tahun. Jadi omset kita 60% omset Singapura tapi tersebar di 54 bandara. Dan kita untuk penerbangan dalam negeri, kalau dia penerbangan luar negeri, jadi ngisinya banyak.Jadi kita melakukan subsidi silang. Jadi untung di Surabaya, Jakarta, Medan dan lainnya di subsidi ke Jayapura. Nah, kalau sekarang gak usah subsidi silang, ok. Tapi harganya beda ya di Jayapura jadi Rp 7.500, di Jakarta cuma Rp 5.300/liter. Gimana? Nanti orang Irian nanya lagi. Jadi yang harus mikirin itu pemerintah.Apa pertamina selama ini merasa tidak didukung pemerintah ?Selama ini diminta menangani, kita tangani. Kalau Pertamina diminta tidakmenangani lagi, ok. Tapi kita harap ada kesadaran akan konsekuensinya. Itulah yang harus ditimbang pemerintah. Kalau semua harus dibuka, kita siap bersaing. Nggak masalah.2007 ini Pertamina sudah tidak pegang public service obligation (PSO) lagi Bukan pegang PSO lagi, kita sudah dapat penggantian sesuai harga pasar yang pegang PSO itu BP hilir. Pertamina disuruh menjual barangnya Pertamina tidak sesuai harga pasar. Ini bukan barang pemerintah, tapi Pertamina. Kalau saya nggak mau, bisa saya jual ke luar.Ada rencana gandeng mitra untuk penjualan di hilir ?Ah, kalau untuk Indonesia saja saya bisa sendiri.Untuk peningkatan kualitas SPBU Pertamina sudah memulai dengan SPBU percontohan, tapi banyak sekali SPBU yang dikelola swasta sehingga sulit untuk merubahnya. Padahal kan SPBU kan sekarang jadi faktor utama pembenahan pemasaran Pertamina, setelah masuknya pemain asing ?Ya kita dorong. Itu kita sudah ada pola-polanya. Memang dulu kita dikasih swasta. Kalau SPBU kan ada yang namanya company own, companyoperator, itu yang namanya dimiliki perusahaan, dioperasikan perusahaan. Di Pertamina, itu yang sedikit. Seluruh Indonesia mungkin hanya 20-30 saja. Nah, itu yang akan kita perbanyak, karena sarana yang company own, company operator itu harus menjadi tolok ukur SPBU yang lain. Ini menjadi percontohan, tempat training. Nah, sekarang kalau orang mau buka SPBU kita training dulu.Sistem yang kedua adalah company own, dealer operated (CODO). Jadi dimiliki perusahaan juga sebagian dan dioperasikan oleh dealer. Jadi misalnya joint venture, kita punya 20%, 30%, 50%, tapi yang operasikan swastanya, partner kita. Tapi ada yang dealer own, dealer operated (DODO), yang semuanya dimiliki swasta dan ini yang terbanyak. Ini yang kita juga harus restrukturisasi. Kita kasih bantuan. 'Kalau anda ingin berubah seperti ini, anda akan lebih dapat insentif dan saya akan bantu pendanaannya, saya akan bantu trainingnya'SPBU yang baru ini ada standarnya ?Ada, sekarang kita kompetisikan antara yang CODO, dengan yang DODO, yangpokok itu kita kompetisikan mulai tahun kemarin waktu ulang tahun Pertamina, kita kasih insentif, kita kasih ini. Nanti kita klasifikasi. Ya nggak bisa dong, pompa bensin yang jelek-jelek marginnya sama dengan pompa bensin yang bagus, nggak bisa. Tapi ini memang terbukti. Pompa bensin yang bagus itu omsetnya bagus banget, yang ada Dunkin Donuts-nya, yang ada convinient store, yang ada ATM, yang ada tempat cuci mobilnya.Berapa perbandingan pemasukan dana antara hulu dan hilir (SPBU) ?Lebih banyak hulu. Harusnya profit perusahaan 80% dari hulu, hilir tuh paling 20%, bahkan 10% kadang-kadang. Tapi hilir ini penting karena untuk cashflow. Bayangkan saja ada Rp 700-800 miliar sehari. Itu kan untuk cashflow bagus, meskipun margin untungnya hanya 4%. Hanya mungkin Rp 28 miliar, Rp 30 miliar, Rp 40 miliar untungnya. Cuma, kan dia meng-generate cashflow yang tinggi, perputaran uangnya bagus.Kalau hulu, memang tidak meng-generate, tapi begitu dapat untung, bukan main. Jadi kalau dari segi profit, profit creator-nya di hulu, hilirhanya profit enhancer. Jadi untung pendorong atau penambah profit, tapiini penting. Kalau dari segi revenue, itu revenue creator-nya di hilir. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads