APBN 2006 Defisit Rp 32,1 Triliun
Selasa, 02 Jan 2007 18:00 WIB
Jakarta - Defisit APBN-P 2006 tercatat sekitar 1 persen dari PDB, atau senilai Rp 32,1 triliun. Angka ini berarti lebih rendah dari sasaran pemerintah sebelumnya sebesar 1,3 persen atau Rp 40 triliun.Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam jumpa pers di Graha Sawala Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (2/1/2007).Menurut Sri Mulyani defisit itu timbul dari pendapatan negara yang mencapai Rp 637,8 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp 669,9 triliun. Dengan defisit yang lebih rendah Rp 7,9 triliun dari target sebelumnya, maka pemerintah menghemat penggunaan dana rekening pemerintah atau perbankan dalam negeri sekitar Rp 2,6 triliun. Selain itu pemerintah mengurangi penarikan pinjaman luar negeri hingga Rp 4,4 triliun."Defisit bisa ditutupi dari mekanisme pembiayaan yang ada," tambah Sri Mulyani.Untuk pendapatan perpajakan mencapai Rp 409 triliun, atau 96,2 persen dari target Rp 425,1 triliun. Dari PNBP mencapai Rp 226,9 triliun, atau 98,7 persen dari target Rp 229,8 triliun.Belanja pusat mencapai Rp 443,5 triliun atau 92,7 persen dari target Rp 479,2 triliun. Belanja pusat terdiri dari belanja barang 46,9 triliun, belanja modal Rp 59,4 triliun, subsidi Rp 107,5 triliun, pembayaran bunga utang Rp 78,9 triliun. Sementara belanja daerah Rp 226,4 triliun, lebih tinggi dari target Rp 220,9 triliun (102,5 persen). Pencapaian penerimaan negara secara umum berada di bawah target APBN atau secara agregat sekitar 97 persen. Rasio perpajakan atau tax ratio sebesar 13,3 persen dari PDB. Lebih rendahnya tax ratio, kata Sri Mulyani, disebabkan karena adanya perlambatan kegiatan ekonomi di sektor-sektor tertentu, penurunan impor barang modal dan penurunan transaksi di sektor perumahan yang menyebabkan beberapa jenis pajak yakni PPh nonmigas, PPN impor, bea masuk dan BPHTB terkena dampaknya.
(qom/qom)











































