Bom Thailand Berdampak Lebih Parah Ketimbang Kudeta
Rabu, 03 Jan 2007 16:58 WIB
Bangkok - Ledakan bom yang terjadi pada malam tahun baru di Bangkok, Thailand berdampak buruk bagi perekonomian di negara tersebut. Menurut para pemimpin industri di Thailand dampak yang terjadi lebih parah dibandingkan dengan kudeta yang terjadi pada September 2006 lalu. Pornsilp Patcharintanakul, Kepala Deputi Board Of Trade Thailand mengatakan, ledakan bom tersebut membuat para investor swasta dan para turis asing berpikir Thailand tak lagi aman. "Apalagi kejadian ini terjadi di Bangkok yang merupakan pusat bisnis di Thailand. Hal ini akan menyebabkan kepercayaan diri para pebisnis akan goyah dan menurun" ujar Pornsilp seperti dikutip dari AFP, Rabu (3/1/2007). Sementara Santi Vilassaksanont, Ketua Federasi Industri Thailand mengatakan, serangan bom yang terjadi di malam tahun baru tersebut telah menimbulkan keraguan para investor dan warga asing terhadap kemampuan pemerintah saat ini. "Kepercayaan investor terhadap pemerintah menjadi hilang akibat ledakan tersebut," ujar Santi. Ia menambahkan, para investor saat ini masih khawatir tentang berbagai peraturan baru yang dikeluarkan sehingga mereka merasa ragu tentang kebijakan pemerintah dalam mengatur perekonomian. Pada 18 Desember lalu, Bank Sentral Thailand mengeluarkan aturan tentang pembatasan transaksi valas yang dimaksudkan untuk menghindari spekulasi terkait penguatan baht yang cukup tajam. Namun kebijakan itu justru menimbulkan syok di pasar saham sehingga indeks saham anjlok hingga 15 persen. James Peter Blaney Davison selaku Vice President for International Business Development dari Giant Retail Central Group mengatakan, ketidakpastian telah menghantui para investor luar negeri. Menurutnya, pemerintah Thailand harus bisa mengembalikan keyakinan publik mengenai keamanan negara untuk membangkitkan kembali perekonomian. Setelah kudeta oleh kaum militer, para pemimpin bisnis berharap perubahan stabilitas domestik dapat membawa perekonomian Thailand menjadi lebih baik disamping faktor negatif eksternal, seperti penurunan ekspor. Penguatan baht juga telah produk-produk menjadi mahal dibandingkan harga produk-produk negara-negara tetangga. "Ekonomi Thailand masih rapuh karena ekspor berkurang dan banyak ketidakpastian yang terjadi," Kata Pornsilp.
(qom/qom)











































