Kurang Info, Miliaran Dolar Bisnis Non-Alutsista Menguap
Senin, 08 Jan 2007 15:45 WIB
Jakarta - Bisnis pendukung industri pertahanan di luar senjata atau non alutsista (alat utama sistem pertahanan) memiliki pangsa ekspor yang luas.Namun sayangnya, akses informasi pengusaha Indonesia atas tender non alutsista, terutama yang digelar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sangat minim. Hal itu membuat Indonesia kehilangan potensi pendapatan (potential loss) dari ekspor industri ini US$ 9-10 miliar per tahun.Industri pertahanan non alutsista yang memiliki pasar luas untuk pengusaha Indonesia adalah pakaian, alas kaki dan obat-obatan."Kemampuan produksi kita mampu bersaing, makanya perlu sekali pola kerja sama antara atase pertahanan, atase perindustrian dan perdagangan serta pihak Kedubes memberikan informasi seperti tender-tender yang diselenggarakan oleh badan PBB," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris.Hal itu disampaikan Fahmi, disela acara pertemuan dengan produsen pendukung TNI, di Badan Perlengkapan (Bapek) TNI, Jalan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (8/1/2007).Fahmi menambahkan, pihaknya sudah mengusulkan kepada Menlu akan perlunya kebijakan untuk meningkatkan kesempatan produsen non alutsista ke luar negeri agar bisa ikut tender di PBB. Sejak tahun 2003 potensi pasar yang dimasuki Indonesia cukup rendah karena tidak adanya divisi khusus perdagangan internasional di perusahaan dalam negeri.Sementara Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari mengatakan, angka ekspor produsen non alutsista dalam tiga tahun terakhir relatif nol. Padahal sebelumnya bisa mendapatkan perdagangan senilai US$ 11 juta per tahun.Menurut Ansari, ekspor non alutsista yang paling berpotensi untuk produk asal Indonesia adalah tekstil, alas kaki dan makanan.
(qom/ir)











































