Suplai Minyak Nabati Dunia Minus 2,8 Juta Ton
Senin, 08 Jan 2007 18:45 WIB
Jakarta -
Permintaan minyak nabati dunia diperkirakan jauh melebihi tingkat produksi. Pada tahun 2007 permintaan minyak nabati diprediksi meningkat menjadi 6,5 juta ton, sementara pasokannya hanya 3,7 juta juta ton."Dari sisi permintaan terjadi peningkatan konsumsi di Asia sebesar 10 persen untuk pasar tradisional sebesar 4,5 juta ton ditambah permintaan non tradisional untuk biodiesel dan green energy sebesar 2 juta ton," ujar Direktur Pelaksana Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PTPN Bagas Angkasa di kantornya, Jl Cut Meutia, Jakarta, Senin (8/12/2007).Pada tahun ini diperkirakan pasokan minyak nabati meningkat 3,7 juta ton dengan rincian 1 juta ton minyak kedelai, minyak sawit naik 2 juta ton, palm kernel oil naik 270 ribu ton. Sementara produksi rape oil dan minyak bunga matahari tidak ada perubahan.Produksi minyak sawit dunia diperkirakan selama 2007 hanya akan meningkat 2 juta ton menjadi 38,97 juta ton, sedangkan konsumsi minyak sawit mencapai 39 juta ton. Hal ini akan menyebabkan cadangan minyak sawit akan turun."Pertumbuhan permintaan minyak nabati terbesar dari sektor biodiesel. Kapasitas produksi biodiesel dunia sampai akhir 2007 akan mencapai 15-16 juta ton," kata Bagas.Kenaikannya antara lain untuk Indonesia dan Malaysia 800.000 ton, Amerika Selatan 400.000 ton, Amerika Utara 400.000 ton, Eropa dan negara lainnya sekitar 400.000 ton.Menurut Bagas, prospek Malaysia untuk mengembangkan minyak nabati terbatas karena minimnya lahan. Saat ini Malaysia hanya mengembangkan 4 juta hektar dan potensi maksimum hanya 6 juta hektar (pengembangan Sarawak 1 juta hektar dan Sabah 0,5 juta hektar)."Tahun 2007 permintaan Malaysia untuk kapasitas terpasangnya mencapai 1 juta ton untuk biofuel dan masih memerlukan tambahan sekitar 2 juta ton," tambahnya.Terkait minyak kedelai, Bagas menjelaskan, meningkatnya lahan pertanian jagung di Amerika untuk kebutuhan biodiesel menyebabkan lahan pertanian kedelai di sana berkurang 2,02 juta Ha. Ini menyebabkan penurunan produksi kedelai hingga 6-8 juta ton. "Berkurangnya lahan kedelai ini akan menjadi tren yang sangat bullish terhadap harga minyak nabati. Mengingat stok minyak kedelai dunia akan berkurang sebesar 0,3 juta ton akibat peningkatan konsumsi hingga 2,9 juta ton," jelas Bagas.
(ddn/qom)










































