Inflasi DIY Tertinggi di Jawa

Inflasi DIY Tertinggi di Jawa

- detikFinance
Rabu, 10 Jan 2007 17:48 WIB
Yogyakarta - Laju inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tertinggi di Pulau Jawa. Laju inflasi menembus dua digit yakni 10,41 persen atau jauh di atas angka inflasi nasional yang mencapai 6,6 persen pada tahun 2006.Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Djarot Sumartono dalam acara diskusi Kajian Perekonomian DIY dan Prospeknya 2007, di gedung BI di Jl Senopati Yogyakarta, Rabu (10/1/2007)."Angka inflasi itu merupakan yang tertinggi di pulau Jawa dan menduduki peringkat ke lima di Indonesia," kata dia. Secara nasional kata Djarot, inflasi tertinggi ditempati kota Lhokseumawe NAD sebesar 11,47 persen. Di posisi kedua adalah Banjarmasin, Kalimantan Selatan sebesar 11,03 persen. Sedang posisi ketiga dan keempat adalah Jambi sebesar 10,66 persen dan Kendari sebesar 10,57 persen. Djarot menambahkan, selama tahun 2006 inflasi Yogyakarta diprediksikan tidak sampai dua digit. Namun diluar dugaan, pada akhir tahun 2006 tepatnya pada di bulan Desember harga-harga kebutuhan pokok mulai naik. Akibatnya, laju inflasi melebihi prediksi, bahkan mencapai 10,41 persen. "Boleh dikatakan tingginya inflasi pada kelompok bahan makanan karena meningkatnya permintaan masyarakat menjelang hari raya keagamaan," katanya.Selain bahan makanan, sektor kesehatan juga mengalami inflasi tinggi selama tahun 2006 yang mencapai 14,2 persen. Hal itu diakibatkan pada bulan Juni harga obat meningkat pesat."Contohnya pasca terjadi gempa bumi di Yogyakarta harga obat-obatan meningkat tajam. Setelah itu meningkatnya biaya pendidikan dan kenaikan harga bahan makanan," papar Djarot. Jika berdasarkan komoditas, kata Djarot, komoditi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi 2006 adalah beras sebesar 1,32 persen. Hal itu terjadi akibat respons pelaku usaha atas isu-isu kenaikan harga pupuk dan kenaikan gaji PNS. (bgs/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads