PGN Akui Adanya Keterlambatan Informasi Proyek SSWJ
Minggu, 14 Jan 2007 19:19 WIB
Jakarta - Dirut PGN Sutikno mengakui adanya keterlambatan informasi terkait penyelesaian pipa jalur SSWJ (South Sumatera-West Java). Keterlambatan ini terletak pada arus informasi dari sumber di lapangan ke pihak manajemen di kantor pusat. "Sebenarnya tak ada yang bisa disalahkan, tapi mungkin mereka yang di lapangan terlalu fokus pada target sehingga khilaf untuk memberitahu," kata Sutikno pada jumpa pers di Kantor PGN Pusat, Jalan Zainul Arifin, Jakarta Barat, Minggu (14/1/2007).Sutikno menuturkan, pada saat bersamaan direksi terkonsentrasi penuh pada pemulihan pasca ledakan gas di Jawa Timur pada akhir November 2006. Sehingga saat dilakukan evaluasi pada tanggal 18 Desember 2006, manajemen baru dapat menyimpulkan akan adanya keterlambatan penyelesaian pipa.Walau sudah ada kesimpulan demikian, pihak manajemen masih menyelidiki sebab dan dampak keterlambatan. Keputusan memberitahu publik baru didapat pada 10 Januari 2007 lalu. Publikasi pun akhirnya baru dilakukan tanggal 11 Januari 2007. "Tak ada maksud untuk menutup-nutupi, tapi manajemen memang baru tahu," tegasnya.Terkait isu penyembunyian informasi, Sutikno tidak takut jika pihaknya harus diinvestigasi. Menurutnya, tidak ada yang perlu ditutupi karena keterlambatan itu tidak disengaja. Direktur Keuangan PGN Djoko Pramono juga menampik adanya kebocoran informasi sebelum saatnya terkait isu keterlambatan penyelesaian pipa ini. "Kita jamin, tidak ada kebocoran info," tegasnya. Djoko juga mengatakan, anjloknya harga saham PGN karena keterlambatan penyelesaian pipa SSWJ (South Sumatra-West Java) tidak berpengaruh pada ESOP (employee stock option program) PGN.ESOP atau penjualan saham pada karyawan akan tetap dilakukan dengan harga Rp 10.500 per saham. "Tidak akan berpengaruh, karena ESOP sudah ada aturannya dan sudah baku," tutur Djoko.Untuk mengatasi hal ini, kedepannya PGN siap menambah personel tenaga proyek hingga tenaga konsultan agar kejadian ini tidak terulang lagi. Selain itu PGN juga mengupayakan percepatan penyelesaian proyek. Djoko Pranomo menjelaskan walau terjadi keterlambatan seperti sekarang, penyaluran gas diyakini tetap akan meningkat. Pada November 2007, kapasitas aliran gas sebesar 232 mile million standart cubic feet per day (MMSCFD) bisa ditingkatkan menjadi 272 MMSCFD. Peningkatan ini dilakukan dengan percepatan minimum facility di stasiun Bojonegara agar dapat mengalirkan 100 MMSCFD.Sehingga target total volume distribusi PGN sebesar 555 MMSCFD bisa terlampaui hingga mendekati 600 MMSCFD. Dengan peningkatan ini, maka distribusi gas tahun 2008 dan seterusnya tidak akan terpengaruh. "Januari 2008 kita targetkan (aliran gas-red) bisa 400 MMSCFD," kata Djoko.Total distribusi gas PGN tahun 2006 mencapai 338 MMSCFD, dan diproyeksi sedikitnya mencapai 555 MMSCFD pada tahun ini dan 919 MMSCFD pada tahun depan. Peningkatan ini dipercaya menurunkan capex untuk proyek-proyek PGN. Jika total capex tahun 2006 mencapai US$ 629,29 juta, tahun ini ditargetkan turun menjadi US$ 517,11 juta. Dari capex itu, US$ 222 juta berasal dari pinjaman JBIC dan US$ 66 juta dari pinjaman World Bank. Sedangkan tahun 2008 ditargetkan turun lagi menjadi US$ 180,46 juta.Mengenai kontrak yang sudah terjalin, Sutikno mengakui tidak ada perubahan apa-apa. Termasuk kontrak penyaluran gas dari dengan Pertamina sebesar 200 MMSCFD dan dari ConocoPhillips sebesar 170 MMSCFD.
(lih/mar)











































