BPS Tak Punya Data Lain, Pidato Awal Tahun Pakai Angka Lama
Senin, 15 Jan 2007 14:00 WIB
Jakarta - Pidato awal tahun 2007 akan menggunakan data kemiskinan lama yakni per Maret 2006. Data lama itu dipakai karena BPS tidak memiliki data yang paling baru. Alasannya, perekaman angka kemiskinan dilakukan selama setahun yang baru diakhiri pada bulan Maret."Kita tidak punya data lain , kalau kita harus hitung sekarang resourcess-nya besar untuk hitung angka kemiskinan itu, angka kemiskinan itu kan dihitung satu tahun sekali, nanti baru kita rekam lagi pada Maret 2007," kata kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan.Ia menyampaikan hal itu dalam acara Dialog Kebangsaan Mengawal Demokrasi dan Konsatitusi, di kampus Universitas Trisakti, Jalan Kiayi Tapa, Grogol, Jakarta, Senin (15/1/2007).Pidato SBY dalam penyampaian Nota Keuangan tahun 2006 banyak menuai kritik, karena menggunakan data yang tidak update, alias basi, yakni menggunakan data angka kemiskinan tahun 2005.Dilanjutkan Rusman, SBY baru akan menggunakan data angka kemiskinan terbaru yakni per Maret 2007 pada penyampaian pidato Nota Keuangan 16 Agustus 2007."Namun untuk pidato pada 16 Agustus 2007, SBY akan memakai data Maret 2007," Ujar Rusman.Lebih lanjut Rusman menyampaikan, untuk penghitungan angka kemiskinan di 2007 ini tidak akan ada perubahan metode atau sama dengan teknik ditahun 2006, namun untuk sampel penghitungan akan jauh lebih besar dibanding tahun 2006, guna proyeksi angka kemiskinan yang lebih tepat."Untuk 2007 jumlah sampel rumah tangga yang akan didata BPS sebanyak 68 ribu sampel dari sebelumnya hanya 10 ribu, tujuannnya agar power of estimation lebih kuat," urai Rusman.Dengan peningkatan sampel angka kemiskinan yang memakan dana Rp 25 miliar tersebut, maka potret angka kemiskinan tidak hanya ditingkat nasional, namun juga akan bisa menggambarkan struktur angka kemiskinan sampai ditingkat provinsi.
(hdi/qom)











































