BP Migas Protes Perbandingan Cost Recovery BPKP

BP Migas Protes Perbandingan Cost Recovery BPKP

- detikFinance
Selasa, 23 Jan 2007 18:05 WIB
Jakarta - BP Migas menilai perbandingan cost recovery yang dilakukan Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP) tidak sebanding. BPKP menyatakan bahwa cost recovery Indonesia sekitar US$ 9,027 per barel. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding negara lain seperti Malaysia US$ 3,7 dan Amerika US$ 4.Menurut BP Migas angka cost recovery dari Malaysia dan Amerika baru sebatas biaya produksi. Sedangkan angka dari Indonesia merupakan total dari biaya eksplorasi, biaya pengembangan, dan biaya produksi."Kalau mau dibandingkan, ya produksi dengan produksi dong. Jangan total dengan produksi. Harus apple to apple," kata Kepala BP Migas Kardaya Warnika disela-sela Forum Diskusi tentang temuan hasil audit BPKP bidang Minyak dan Gas Bumi di Sektor Hulu, di gedung BPKP, Jl Pramuka, Jakarta, Selasa (23/1/2007).Menurut Kardaya biaya produksi di Indonesia justru lebih murah. Ia membandingkan produksi Caltex di Indonesia biaya produksinya hanya US$ 1 per barel, sedangkan biaya produksinya di Malaysia mencapai US$ 3 per barel.Dikatakan juga, jika di Indonesia cost recovery merupakan total dari tiga komponen yang dibayar sekaligus, tidak demikian di Amerika. Disana, tidak ada yang namanya cost recovery. Biaya eksplorasi, pengembangan, dan produksi dibayarkan secara terpisah.Tingginya cost recovery di Indonesia memang sedang menjadi sorotan karena justru beriringan dengan penurunan produksi. Menurut siaran pers dari BPKP, cost recovery sering terjadi pada awal investasi, namun akan berkurang seiring waktu karena biaya yang selanjutnya umumnya untuk perawatan saja.Menanggapi hal ini, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa pada 2005-2006 memang investasi naik, sehingga cost recovery juga terdongkrak. Hasil Investasi MigasMengenai hasil investasi migas, Purnomo menilai baru bisa dilihat dalam bertahun-tahun. Sementara Kardaya mengatakan, rata-rata produksi Minyak baru bisa terlihat dalam 6-7 tahun. Sedangkan untuk gas baru terlihat dalam 10 tahun. "Jadi investasi sekarang yang menikmati kabinet depan," ujar Purnomo sambil tertawa.Namun Purnomo yakin, produksi migas akan bisa ditingkatkan dalam waktu dekat. Untuk minyak ada 33 lapangan yang siap dikembangkan. Diantaranya adalah blok Cepu yang menjadi andalan dengan produksi puncak 170 ribu barel per hari.Sedangkan untuk gas, dari produksi saat ini yang sebesar 20 juta ton per tahun akan ditambah gas dari Tangguh sebesar 7,5 juta ton per tahun. Jumlah ini masih ditambah pasokan gas dari Sumatra Selatan sebesar 5 juta ton per tahun. Purnomo juga yakin lapangan lainnya seperti Senoro bisa ditingkatkan lagi hingga produksinya meningkat lebih dari 50 persen. (ard/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads