RI Minta IMF Tidak 'Bermuka Dua'
Selasa, 23 Jan 2007 19:05 WIB
Jakarta - Indonesia meminta IMF tidak menerapkan standar ganda alias bermuka dua. Pandangan dan kritikan kepada negara-negara 'kecil', juga harus disampaikan kepada negara-negara maju dan besar.Menurut Menkeu Sri Mulyani, kritikan itu harus disampaikan juka memang yang menjadi pemicu persoalan-persoalan global adalah justru negara-negara maju."IMF harus lebih kredibel memberikan pandangan dan kritiknya kepada negara-negara yang super power itu. Sehingga IMF tidak dinilai double standard. Kalau ke negara-negara yang ringan, lebih keras, sedangkan ke negara-negara super power, mereka tidak bunyi," kritik Sri Mulyani saat dicegat di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (23/1/2007).Sri Mulyani menambahkan, Indonesia akan memanfaatkan momentum kedatangan managing director IMF Rodrigo Rato untuk mendengar tentang kebijakan IMF atas perekonomian global."Terutama perhatian tertuju pada apakah AS akan menjadi cooling down atau tidak mengenai masalah inflasi dunia, karena ini mempengaruhi tingkat suku bunga dunia. Informasi seperti ini akan kita pakai sebagai bahan perbandingan," tambahnya.Menurut Sri Mulyani, IMF harus bisa menjadi jembatan dengan negara-negara maju tersebut, mengingat yang menjadi sumber ketidakstabilan dunia saat ini justru negara-negara perekonomian besar seperti AS dan Cina. "Jadi harus sama kerasnya jika mereka menasihati negara-negara berkembang, sehingga mereka konsisten. Kan katanya mandat IMF adalah mnejaga perekonomian global," tambahnya.Pemerintah akan menyampaikan pandangan ini kepada Rato. "Apalagi Rodrigo Rato merupakan managing director IMF, yang sering bertemu dengan kepala negara. Kami ingin ia menyampaikan hal ini kepada negara-negara lain," pungkasnya.
(qom/qom)











































