AS Gencarkan Produksi Biofuel

Kurangi 3/4 Impor Minyak

AS Gencarkan Produksi Biofuel

- detikFinance
Rabu, 24 Jan 2007 12:48 WIB
Washington - Amerika Serikat (AS) yang merupakan salah satu negara konsumen minyak terbesar dunia ingin segera melepaskan diri dari ketergantungan impor minyak. Biofuel diharapkan mampu menggantikan bahan bakar fosil.Rencana mengurangi impor minyak itu disampaikan oleh Presiden AS George Walker Bush dalam pidatonya di Washington, Rabu (24/1/2007)."Sudah terlalu lama negara ini tergantung pada minyak dari negara asing. Ketergantungan ini membuat kita lebih rentan terhadap rezim-rezim permusuhan dan teroris, yang dapat menyebabkan gangguan pengapalan minyak dan menaikkan harga minyak dunia sehingga bisa mengganggu perekonomian," jelas Bush.Menurut Bush, sangat vital bagi AS untuk melakukdn diversifikasi suplai energi. AS harus mngubah metode pembangkit energi listrik dengan menggunakan teknologi batubara yang lebih bersih, energi matahari dan angin serta tenaga nuklir yang aman."Kita juga harus terus menanamkan investasi untuk metode-metode baru produksi ethanol, dengan menggunakan berbagai bahan seperti dari serpihan kayu, rumput dan sisa-sia pertanian," jelas Bush yang disambut tepuk tangan hadirin. Menurut Bush, AS sudah meraih banyak kemajuan berkat berbagai kebijakan dan respons yang kuat dari pasar. Dan untuk mewujudkan ambisinya, Bush mengajak anggota Kongres AS untuk mendukung programnya."Mari kita terus membangun pekerjaan yang telah dilakukan dan mengurangi konsumsi BBM di AS hingga 20 persen dalam 10 tahun. Ketika kita melakukan ini, kita dapat mengurangi impor hingga tiga perempat dari total minyak yang kita impor dari Timur Tengah," jelasnya. Untuk mencapai ini, lanjut Bush, suplai biofuel harus ditingkatkan yakni 35 miliar galon bahan bakar yang dapat diperbarui dan alternatif hingga 2017. Angka ini hampir 5 kali lipat dari target saat ini."Dan pada saat yang bersamaan, kita harus mereformasi dan memodernisasi standard keekonomian bahan bakar untuk mobil," ujarnya.Para produsen otomotif AS tampaknya tidak terlalu keberatan dengan rencana Bush tersebut. Misalnya saja General Motors yang mendukung, namun berharap agar keputusan yang dibuat secara teknis memungkinkan dan tidak mengganggu pabrik manufakturnya."Kami berendana untuk bekerjasama dengan Gedung Putih dan Kongres untuk meyakinkan bahwa setiap perubahan memungkinkan secara tekni dan tidak mengganggu pabrik manufaktur seperti GM," ujar juru bicara GM Tom Wilkinson kepada AFP.Namun sebagian kalangan mengkritik kebijakan Presiden Bush mengingat untuk memroduksi biofuel masih menghadapi berbagai kendala. Misalnya saja harga jagung untuk bioethanol yang hingga kini masih saja mahal. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads