Peringkat Tetap
Fitch Naikkan Outlook Indonesia
Senin, 29 Jan 2007 10:47 WIB
Singapura - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings merevisi Outlook atas peringkat mata uang asing dan mata uang lokal, yang disebut Issuer Default Ratings (IDRs) Indonesia dari stabil menjadi Positif. Namun Fitch mempertahankan kedua peringkat tersebut pada 'BB-' (BB minus). Fitch mempertahankan IDR jangka pendek Indonesia pada 'B' dan batas negara (Country Ceiling) pada 'BB'. "Revisi atas Outlook peringkat Sovereign Indonesia mencerminkan komitmen otoritas untuk menjaga stabilitas ekonomi dan disiplin fiskal, serta kebijakan menyeluruh pemerintah untuk melaksanakan agenda reformasi struktural yang bertujuan untuk memperbaiki iklim investasi," kata Ai Ling Ngiam, Direktur pada tim Sovereign Ratings Fitch di Singapura dalam siaran pers yang diterima detikcom, Senin (29/1/2007).Fitch menilai upaya pemerintah untuk mengatasi kekhawatiran investor terhadap korupsi, birokrasi dan hambatan regulatif terutama di bidang perpajakan dan cukai tampak secara perlahan mulai membuahkan hasil. "Budaya takut untuk melakukan korupsi secara terbuka telah muncul seraya investigasi-investigasi anti-korupsi mengarah ke beberapa tuntutan hukum yang berprofil tinggi, pemulihan aset dan peningkatan pengaduan melalui program pengaduan," jelas Ngiam. Sementara sistem pengadaan dengan tender terbuka elektronis telah memperbaiki transparansi. Indonesia juga telah memperbaiki peringkatnya di Indeks Daya Saing Global dari World Economic Forum, naik menjadi 50 pada 2006 dari peringkat 69 pada 2005.Keuangan publik dan perbaikan pengawasan atas risiko fiskal secara luas adalah kekuatan fundamental peringkat Indonesia. Fitch memproyeksikan defisit fiskal akan dapat dipertahankan di 1,1 persen dari PDB tahun ini.Sementara rasio utang pemerintah terhadap PDB akan turun ke sekitar 38% tahun ini, suatu tingkat yang terakhir tercapai hanya pada tahun 1997 dan lebih baik dari median 41% untuk kategori peringkat 'BB'. Namun, rasio utang terhadap pendapatan sebesar 212% pada 2006 tidak sebaik median 'BB' sebesar 162% dan upaya pajak lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan pendapatan. Upaya reprofiling utang dalam negeri juga dinilai telah berhasil menurunkan risiko penumpukan pembayaran utang pada periode 2007-2009 dengan mengganti obligasi-obligasi ini menjadi obligasi-obligasi dengan jangka waktu yang lebih panjang yang jatuh tempo pada 2010 dan 2025.Dari sisi eksternal, peningkatan cadangan devisa yang cukup besar terutama disebabkan karena kenaikan harga komoditas. Juga karena adanya tekanan pada impor oleh sektor manufaktur yang lebih tinggi dari perkiraan dan masuknya dana portofolio yang telah menyediakan bantalan peredam untuk menghadapi kejutan-kejutan sistemik. Kebutuhan pendanaan bruto Indonesia termasuk utang jangka pendek diperkirakan akan turun ke sekitar 66% dari cadangan resmi, selaras dengan median 'BB'. Namun risiko neraca eksternal Indonesia tetap ada, karena peningkatan penghindaran risiko pada pasar berkembang. Lebih jauh, pada sisi neraca transaksi berjalan, tingkat impor manufaktur dan konsumen yang lebih tinggi yang terjadi karena pemulihan dalam pertumbuhan PDB riil ke sekitar 5,9% tahun ini dari 5,6% pada 2006 akan mengakibatkan tekanan karena permintaan atas dolar.Pendapatan eksternal Indonesia juga cukup berprospek dengan adanya fasilitasi perdagangan melalui penciptaan Zona Ekonomi Khusus. Juga berkat adanya upaya untuk mengadakan Perjanjian Kemitraan Ekonomi (Economic Partnership Agreement) dengan tujuan ekspor terbesar Jepang dan pelaksanaan skema Satu Jendela Nasional (National Single Window) untuk pedagang pada 2008.Dibandingkan median 'BB', Indonesia dinilai Fitch masih lemah di rasio-rasio utang external bruto, pembayaran utang eksternal dan pembayaran bunga. Melihat ke depan, Fitch berpendapat bahwa kekuatan posisi eksternal akan membutuhkan percepatan upaya untuk membangun pemasukan modal yang lebih berkesinambungan dalam bentuk penanaman modal asing langsung (PMA).PMA merupakan alternatif yang lebih baik dibandingkan arus portofolio yang berpotensi tidak stabil. Kekuatan kompetitif Indonesia juga perlu diperkuat dalam jangka pendek dengan perasaan mendesak yang lebih tinggi untuk memperbaiki profil resiko kredit Indonesia.
(qom/ir)











































