OPEC Prediksikan Rata-rata Harga Minyak 2007 US$ 63,2/Barel
Senin, 29 Jan 2007 16:51 WIB
Jakarta - Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memprediksi harga minyak tahun 2007 rata-rata akan berkisar pada US$ 63,2 per barel, tidak jauh beda dengan asumsi harga minyak pemerintah dalam APBN 2007 yang mencapai US$ 63 per barel. Harga minyak pada tahun 2007 akan bergerak fluktuatif dengan pada kisaran US$ 54-73 per barel.Demikian disampaikan Gubernur OPEC untuk Indonesia Maizar Rahman dalam jumpa pers di Gedung Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (29/1/2007).Beberapa hal yang mempengaruhi harga minyak tahun 2007 antara lain meningkatnya permintaan minyak dunia, meningkatnya produksi minyak dari negara non OPEC, meningkatnya cadangan minyak negara OPEC.Selain itu juga disebabkan meningkatnya investasi di bidang hulu dan tingginya stok minyak di tengah pertumbuhan ekonomi dunia cenderung menurun. Sementara faktor geopolitik yang menjadi faktor dominan penentu harga minyak di tahun 2006, diperkirakan akan memudar pengaruhnya di tahun 2007. Dengan demikian harga minyak cenderung mengalami penurunan."Pengaruh faktor geopolitik memang akan melemah tahun ini lebih pada faktor fundamental," ujar Maizar OPEC juga memprediksi konsumsi minyak dunia naik 1,25 juta barel per hari menjadi 85,4 juta barrel per hari. Sedangkan kemapuan produksi negara OPEC 11 sebanyak 32,2 juta barel dengan kapasitas terpakai 89 persen. Sementara produksi negara non OPEC meningkat 1,3 juta barel.Angka berbeda disampaikan pengamat perminyakan Kurtubi yang memprediksi harga minyak akan berkisar US$ 60-70 per barel. Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain kenaikan konsumsi minyak dunia yang ditentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi dunia.Kedua, adanya tambahan produksi maksimal dari negara-negara non OPEC, seperti Meksiko, Brazil dan Angola yang mengeksplorasi lapangan laut dalam. Ketiga, pengaruh OPEC yang dominan dalam menentukan harga. Tetapi pengaruh dari OPEC ini tergantung seberapa jauh perbedaan antara kenaikan demand dengan tambahan produksi dari negara non OPEC. "Dengan catatan, Amerika tidak akan menyerang Iran dan anggota OPEC mematuhi kuota," ujarnya.Seperti halnya Maizar, Kurtubijuga menilai bahwa faktor geopolitik akan melemah tahun ini. Terbentuknya poros Teheran-Caracas ini menandakan kesiapan Venezuela untuk mebantu Iran menghadapi Amerika. Sehingga jika Iran terkena sanksi PBB, Venezuela bisa ikut menyetop minyak yang akan dipasarkannya. "Separuh saja produksi Iran dan Venezuela distop, dalam beberapa hari harga minyak bisa US$ 80 per barrel," kata Kurtubi.Menurut Kurtubi, mustahil bagi AS untuk menyerang Iran karena akan berakibat juga pada perekonomian AS.
(ddn/qom)











































