Cost Recovery RI Bukan Yang Termahal
Selasa, 30 Jan 2007 15:32 WIB
Jakarta - Cost recovery yang diperoleh KPS di Indonesia saat ini adalah bukan yang paling mahal di dunia. Tahun 2005, cost recovery RI cuma US$ 9,2 per barel, dibandingkan dengan cost recovery Amerika Serikat yang mencapai US$ 15,18 per barel.Data cost recovery AS tersebut diperoleh dari Departemen Energi AS per Desember 2006. Cost recovery Indonesia juga lebih rendah dibanding Kanada 23,44 us per barel.Hal tersebut disampaikan Kepala BP Migas Kardaya Warnika dalam jumpa pers di kantornya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (30/1/2007).Sedangkan menurut data organisasi negara pengekspor minyak (OPEC), cost recovery Indonesia lebih rendah dibandingkan Angola dan Cina, masing masing sebesar US$ 12 per barel."Jadi cost recovery kita bukan yang termahal, walaupun memang ada kenaikan 1 persen dari 2004," ujar Kardaya.Kardaya membantah BP Migas longgar dalam melakukan pengawasan sehingga cost recovery bisa membengkak. Menurutnya, pengawasan sudah dilakukan secara bersama antara BP Migas dengan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP).Kardaya juga membantah adanya penggelembungan cost recovery. "Kalau ada penggelembungan dimana? Kita tindak lanjuti. Audit (BPKP) kemarin itu belum final, baru temuan awal, selanjutnya ada verifikasi," ujarnya.Target Tambahan Produksi MigasMengenai target pemerintah yang menaikkan produksi minyak dan gas sebesar 30 persen hingga 2009, langkah awal yang akan dilakukan BP Migas adalah menekan tingkat penurunan produksi dari 5,3 persen tahun 2006 menjadi 4,4 persen.Di tahun 2006 jumlah sumur temuan baru mencapai 22 sumur migas yang dikelola oleh 15 KPS dengan perkiraan cadangan 1.225 MMBO (Million Million Barrel Oil) dan 1.366 BCSG (Billion Cubic Feet Gas).Kardaya menambahkan tahun 2007 ini dipastikan ada 4.050 lapangan migas yang akan berproduksi.
(ddn/qom)











































