RI Tak Lagi Net Oil Importer
Rabu, 31 Jan 2007 19:32 WIB
Jakarta - Indonesia ternyata sudah bukan merupakan negara pengimpor minyak lagi atau net oil importer. Menurut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dari sisi APBN, sektor migas masih surplus.Penerimaan sektor migas ke APBN yang terdiri dari setoran minyak Rp 136 triliun. Yang digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) hanya Rp 60 triliun. Sementara penerimaan dari gas mencapai Rp 63 triliun. "Jadi masih surplus sekitar Rp 70 triliun (dari minyak), kalau net oil importer itu implikasinya APBN-nya bobol, tapi ternyata tidak," cetus Purnomo dalam jumpa pers usai rakor peningkatan produksi migas di kantor ESDM Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (31/1/2007).Mengenai target peningkatan produksi minyak dan gas sebesar 30 persen hingga tahun 2009, Purnomo mengaku pemerintah lebih optimis untuk meningkatkan produksi gas ketimbang produksi minyak. "Kita memang lebih optimis di gas," kata Purnomo singkat.Dirjen Migas Departemen ESDM Luluk Sumiarso mengatakan ada 3 skenario yang disiapkan pemerintah untuk mencapai target itu.Pertama kenaikan produksi migas hingga 26 persen atau sebesar 3.135 Barel Oil Equivalent Per Day(BOEPD), yakni peningkatan produksi minyak bumi (target pesimis) 1.070 BOEPD dan produksi gas (target optimis) 2.065 BOEPD.Kedua, kenaikan produksi migas hingga 30 persen atau sebesar 3.236 BOEPD, yakni peningkatan produksi minyak bumi (optimis) 1.350 BOEPD dan produksi gas (target pesimisi) 1.886 BOEPD.Ketiga, kenaikan produksi migas hingga 30 persen atau sebesar 3.229 BOEPD, yakni peningkatan produksi minyak bumi (optimis) 1.326 BOEPD dan produksi gas (target optimis) 1.503 BOEPD."Kita cari mana yang secara riil, bisa dilakukan," ujar Luluk.Purnomo menyatakan, ketiga skenario in belum final, tapi akan dibahas lagi dengan para perusahaan minyak yang beroperasi di Indonesia, dan departemen teknis yang terkait secara langsung. Pertemuan ini akan digelar hari Kamis dan Jumat besok.
(ddn/qom)











































