IMF Harus Jual Emas Untuk Cegah Kebangkrutan
Kamis, 01 Feb 2007 11:50 WIB
Jakarta - Pelunasan utang negara-negara anggotanya, tak bisa dipungkiri mempengaruhi posisi keuangan Dana Moneter Internasional (IMF).Penal para pakar keuangan menyarankan Dana Moneter Internasional menjual 400 ton cadangan emasnya sebagai strategi untuk menghindari krisis keuangan di tubuh IMF.Namun IMF harus menjual emas itu dengan bijak untuk menghindari kegoncangan di pasar dunia. Salah satu dari anggota panel pakar yang mengusulkan IMF jualan emas adalah mantan Gubernur The Fed AS Alan Greenspan.Seperti dikutip AFP, Kamis (1/2/2007), IMF memiliki cadangan emas sebanyak 3.200 metrik ton. Menurut para pakar itu penjualan 400 ton emas akan menghimpun dana sekitar US$ 6,6 miliar dengan harga emas sekarang.Panel para pakar ini menyarankan dana hasil penjualan emas disimpan dalam endowment fund, yang bisa memberikan hasil investasi US$ 195 juta per tahunnya.Direktur Pelaksana IMF Rodrigo Rato meminta para pakar ini untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada IMF yang sedang dilanda krisis akibat beberapa anggotanya melunasi utangnya sebelum jatuh tempo.Para pakar itu dipimpin oleh Andrew Crockett, mantan Kepala Bank for International Settlements, Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet, dan Gubernur Bank Sentral Cina Zhou Xiaochuan.Crockett mengaku aneh melihat situasi yang dihadapi IMF. Keuangan IMF lebih sehat ketika anggotanya sedang dilanda krisis ekonomi. IMF mendapat penghasilan dari pembayaran bunga dari uang yang dipinjamkannya.Untuk mengubah ini, para pakar meminta IMF untuk memperlebar sayap investasinya, sehingga bisa menghasilkan US$ 45 juta dari pasar modal.IMF bisa saja menginvestasikan dana yang diperolehnya dari 185 anggota. Dana ini berpotensi memberikan keuntungan US$ 300 juta per tahunnya."Dengan demikian tidak akan ada krisis yang akan mendera IMF. Kami percaya bahwa sangat penting bagi IMF untuk segera memulai proses mencari model pendapatan yang baru," ujar Crockett.Rato menyamut baik rekomendasi tersebut dan akan mendiskusikan hal tersebut dengan dewan eksekutif IMF."Laporan ini merupakan batu loncatan bagi pekerjaan kami. Dan langkah yang penting untuk mengembangkan model pendapatan yang baru," ujarnya.Negara-negara yang sudah tidak menjadi pasien IMF antara lain Brazil, Argentina, Ekuador, Serbia, Uruguay dan terakhir Indonesia. Demikian pula Filipina yang sudah menyatakan niatnya untuk melunasi utangnya ke IMF pada awal tahun 2007.IMF diprediksi mengalami kekurangan laba operasi sebesar US$ 105 juta pada tahun fiskal hingga April 2006. US$ 67 juta di antaranya hilang karena pembayaran yang dipercepat oleh Indonesia, Serbia dan Uruguay.Untuk mengatasi kekurangan laba tersebut, IMF akan menanamkan modalnya sebesar US$ 8,7 miliar ke pasar obligasi.
(ddn/qom)











































