Moody's Naikkan Outlook RI
Senin, 05 Feb 2007 11:09 WIB
Jakarta - Menyusul Fitch Ratings, lembaga pemeringkat Moody's Investor Service juga mengubah outlook atau prospek Indonesia dari 'stabil' ke 'positif'. Perbaikan outlook itu berlaku untuk obligasi pemerintah yang diterbitkan dalam mata uang lokal dan asing yang berperingkat B1.Dalam siaran pers Moody's yang diterima detikFinance, Senin (5/2/2007), dikatakan bahwa perbaikan outlook itu disebabkan karena membaiknya rasio utang pemerintah dan posisi utang luar negeri.Moody's juga mengubah outlook dari 'stabil' menjadi 'positif' untuk batas atas kurs mata uang asing untuk surat berharga yang kini berperingkat 'Ba3' dan batas atas mata uang asing untuk deposito bank yang kini berperingkat 'B2'."Kondisi politik Indonesia yang relatif stabil berarti kebijakan fiskal yang hati-hati akan terus dilaksanakan selama beberapa tahun ke depan," ujar Vice President Moody's Steven Hess.Ia menambahkan, defisit anggaran tahun 2006 yang mencapai 1 persen dari PDB merupakan lanjutan dari terus mengecilnya defisit yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Dikombinasikan dengan nominal pertumbuhan PDB yang tinggi, maka defisit yang relatif rendah itu menghasilkan penurunan rasio utang pemerintah yang cukup signifikan yakni sebesar 42 persen pada tahun 2006. "Rasio utang Indonesia sekarang bisa dibandingkan dengan rasio utang negara lain yang peringkatnya lebih tinggi daripada Indonesia," ujarnya. Neraca pembayaran juga terus membaik, terus mengalami surplus dari tahun 1998. Surplus ini meningkatkan cadangan devisa sehingga akhirnya Indonesia bisa membayar utangnya ke Dana Moneter Internasional (IMF). Hasilnya, rasio utang luar negeri Indonesia menyusut. "Kami percaya tren ini akan terus terjadi beberapa tahun ke depan, meskipun bisa dipengaruhi oleh perubahan harga komoditi. Harga komoditi ekspor Indonesia yang terus naik akan memberikan keuntungan bagi neraca pembayaran selama 2 tahun ini," ujarnya. Hess mengharapkan kenaikan outlook utang ini bisa memperbaiki iklim investasi dan memperbaiki rasio utang luar negeri. "Meskipun penanaman modal asing telah meningkat selama 2 tahun, investasi yang masuk akan lebih banyak lagi bila diikuti dengan perbaikan iklim investasi," ujar Hess.
(ddn/qom)











































