Kiriman Tekstil Solo Tertunda
Selasa, 06 Feb 2007 14:06 WIB
Solo - Banjir di Jakarta berdampak langsung pada pengiriman barang-barang dari daerah ke ibukota. Pengiriman kain atau tekstil batik dari Pasar Klewer Solo ke Pasar Tanah Abang dan Cipulir telah berhenti semenjak banjir melanda. Kain yang tertunda pengirimannya itu seharga lebih dari Rp 10 miliar. Ny Solihatun, salah seorang pedagang di Pasar Klewer mengaku telah menghentikan pengiriman kain-kain batik, selimut, sprei ke Jakarta karena banjir yang melanda di daerah tersebut. Dalam kondisi normal, setiap harinya Solihatun biasa mengirim 40 kodi kain dengan harga rata-rata Rp 600 ribu/kodi. Hal serupa juga dilakukan oleh Ny Murni, Husain dan ratusan pedagang Pasar Klewer lainnya yang biasa mengirim kain ke Jakarta tiap harinya. Humas Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK), Sarjono, mengatakan para pedagang memutuskan tidak melakukan pengiriman tekstil ke Jakarta karena kondisi yang tidak memungkinan. Apalagi semua perusahaan jasa pengiriman barang juga tidak melakukan pengiriman barang ke Jakarta. Penghentian pengiriman kain tekstil ke Sumetera juga dilakukan para pedagang di pasar batik terbesar di Jawa Tengah itu. Hal itu dikarenakan pengiriman barang ke Sumatera juga lewat Jakarta yang tidak mungkin dapat dilalui. "Pengiriman kain dari Pasar Klewer di Jakarta setiap harinya seharga antara dua hingga tiga miliar rupiah. Dengan demikian selama banjir melanda Jakarta ini kain yang tertunda dikirim ke Jakarta dari Klewer telah lebih dari sepuluh miliar rupiah," ujar Sarjono, Selasa (6/2/2007) siang. Ia memperkirakan pengiriman barang belum akan berjalan normal hingga sekitar satu bulan setelah banjir di Jakarta reda. Hal itu dikarenakan pera pedagang di Tanah Abang maupun Cipulir juga memerlukan dan biaya tidak sedikit untuk pembenahan. Demikian juga para pembelinya. "Jadi meskipun nanti bajir di Jakarta telah reda, kami juga tidak akan langsung mengirim dalam jumlah banyak. Kami perlu melihat kondisi daripada sudah dikirim tapi tidak terbayar. Akan butuh waktu lebih dari sebulan setelah banjir untuk kembali normal," lanjut Sarjono.
(mbr/qom)











































