Pengusaha Tempe Buncit Menjerit

Pengusaha Tempe Buncit Menjerit

- detikFinance
Jumat, 09 Feb 2007 10:47 WIB
Jakarta - Banjir hingga sedada telah menghanyutkan peralatan UKM produsen tempe di bantaran kali Buncit. Sudah peralatan hanyut, kini UKM-UKM itu harus menghadapi meroketnya harga kedelai dan langkanya ragi.Penuturan Mustofa (60 tahun), seorang produsen tempe yang sudah berproduksi sejak tahun 1973, banjir dari luapan kali Buncit menyebabkan mereka tak bisa berproduksi sejak Jumat, 2 Februari lalu. Namun desakan perut keluarga membuat Mustofa tidak putus asa. Ia pun kembali berbelanja sejumlah peralatan seperti kayu, kaleng dan ember ke koperasi tahu tempe. Ditambah sebagian peralatan yang berhasil diselamatkannya, Mustofa pun kembali memroduksi tempe dengan bahan baku kedelai yang tersisa."Jadi mulai kemarin sudah bisa berproduksi lagi," ujarnya saat ditemui detikFinance di rumahnya yang terletak di pinggir kali Buncit, Jakarta, Jumat (9/2/2007).Mustofa beserta sekitar 30-an produsen tahu tempe lainnya di sepanjang kali Buncit umumnya sudah menjalankan kegiatan usahanya sejak bertahun-tahun lalu. Mereka tinggal di Jalan Mampang Prapatan IX atau biasa dikenal dengan nama buncit 6, Kelurahan Tegal Parang Rt 7/RW 3. Namun Mustofa enggan menyebutkan berapa nilai kerugian dan berapa omzetnya. "Pokoknya bisa buat makan sehari-hari keluarga," ujarnya.Ia mengaku banjir kali ini adalah yang terparah. Mustofa mengaku, meski melakukan usaha di bantaran kali Buncit, namun selama ini belum pernah usahanya ludes kena banjir. "Tapi kemarin masih sempat menyelamatkan kedelai," katanya.Akibat banjir, kata Mustofa, para produsen saat ini kesulitan mendapatkan kedelai dari Amerika Serikat (AS) dengan harga biasanya Rp 3.950/kg. Para produsen kini terpaksa membeli kedelai Cina seharga Rp 5.000/kg.Selain itu, produsen juga kesulitan mencari ragi tempa yang biasanya dibeli dengan harga Rp 13.000/kg. Mustofa mengaku saat ini hanya bisa memroduksi sekitar 75 kg tempe per hari. Padahal disaat banjir kali ini, permintaan tahu dan tempe cukup tinggi.Sementara Amsorudin (50 tahun), yang telah berproduksi sejak tahun 1996 mengaku hingga hari ini belum berproduksi karena kesulitan ragi tempe dan mahalnya harga kedelai.Amsoruddin berharap pemerintah membantu alat-alat produksi dan juga menurunkan harga kedelai menjadi Rp 3.200/kg. (qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads