Boikot Udang Indonesia oleh Eropa Dinilai Tak Fair
Selasa, 20 Feb 2007 14:54 WIB
Solo -
Aksi boikot udang dari Indonesia oleh sejumlah negara seperti Uni Eropa dinilai sebagai langkah tidak fair dan tidak masuk akal. Kriteria yang ditetapkan para importir untuk udang dari Indonesia dinilai sangat sulit dipenuhi. Hal tersebut disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi kepada wartawan saat mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja ke kampung pertanian ikan lele di Desa Tegalrejo, Sawit, Boyolali, Selasa (20/2/2007) siang."Baik Amerika, Jepang dan terutama Uni Eropa itu sangat tidak fair dalam menerapkan aturan untuk menolak udang dari Indonesia. Bayangkan, dalam satu ton udang terdapat 1 mg antibiotik saja sudah dinyatakan tidak layak. Ini tidak logis. Padahal manusia saja kalau sakit hingga 500 mg kok," ujarnya.Lebih tidak fair lagi, menurut Freddy, adalah aturan yang diterapkan oleh Uni Eropa. Dalam ketentuan dari Uni Eropa, seluruh udang dari Indonesia akan ditolak jika ditemukan dari salah satu peternakan udang di negara ini memproduksi udang dengan kadungan antibiotik melebihi ambang batas tersebut."Kita masih akan mengupayakan perbaikan mutu udang kita. Seharusnya jika ada satu perusahaan yang dinilai memiliki udang bermasalah tunjuk saja namanya, biar kita yang menindak. Jadi bukan semua ditolak seperti ini, karena ini sama halnya menjadikan 35 juta petani udang miskin lagi," lanjutnya.Namun demikian, Freddy mengaku masih akan menguyapakan pendekatan kepada negara-negara importir, terutama Uni Eropa, untuk mengubah kebijakan impor udang yang dinilai tidak fair dan tidak logis tersebut.
(mbr/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































