Sebagian Sentra Industri Tekstil Bandung Terendam

Sebagian Sentra Industri Tekstil Bandung Terendam

- detikFinance
Rabu, 21 Feb 2007 13:56 WIB
Bandung - Kawasan Dayeuhkolot, Bandung, yang merupakan salah satu sentra tekstil terbesar di Indonesia juga ikut terendam akibat luapan sungai Citarum. Angka kerugian belum bisa dihitung karena terus bergerak.Pantauan detikFinance, Rabu (21/2/2007), beberapa pabrik tekstil yang berada di Jalan Ciserung, Dayeuhkolot, berhenti beroperasi karena akses jalan depan pabrik terendam air hingga sepinggang orang dewasa. Akibatnya banyak karyawan yang absen.Selain industri tekstil, industri pengolahan air limbah Kabupaten Bandung juga ikut terendam air hingga 1,5 meter. Berbeda dengan air banjir yang biasanya berwarna coklat, air yang menggenangi industri pengolahan air limbah berwarna hitam dan sangat berbau.Sementara pabrik benang Panasia terlihat kosong dan tergenang air. Demikian pula pabrik kain tenun dan pencelupan Nagamas juga terendam tapi hanya 10 cm.Menurut Andi, staf bagian umum Nagamas, dari 400 karyawan hanya sekitar 40 persen yang masuk. "Susah lewatnya, juga ke sininya. Saya juga pakai becak. Becaknya pun joknya dipakai kayu agar tinggi," ujarnya.Sampai siang ini, pabrik berhenti beroperasi. Kebanyakan karyawan yang masuk sibuk mengeluarkan air dari pabrik. "Kita belum tahu nanti sore apakah masih beroperasi atau tidak dilihat dari jumlah air," tambahnya.Namun tidak seluruh pabrik di Dayeuhkolot terendam. Menurut Ade Sudrajad, Ketua Asosiasi Perusahaan Tekstil Indonesia, terdapat 18 pabrik yang berada di jalur Sungai Citarum. Namun diperkirakan hanya sekitar sepertiga yang terendam. Ade mengaku belum bisa bisa menghitung kerugian karena belum menerima laporan berapa jumlah pabrik yang terendam dan mesin. "Saya perkirakan sampai minggu depan masih puncaknya banjir karena menurut BMG curah hujan minggu-minggu ini sangat tinggi," katanya.Ade mengimbau para pengelola pabrik menyelamatkan asetnya mengingat curah hujam yang diperkirakan masih tinggi sehingga kemungkinan banjir masih besar. "Mesin itu tidak bisa diangkat karena berat, jadi pasti terendam jika air makin tinggi. Yang bisa kami usahakan bahan baku sudah dinaikkan," ujarnya. (qom/nrl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads