Impor Beras Mungkin G to G

Impor Beras Mungkin G to G

- detikFinance
Sabtu, 24 Feb 2007 17:12 WIB
Solo - Impor beras tahap kedua kemungkinan akan menggunakan pola government to government (G to G) karena prosesnya bisa lebih cepat. Sementara negara yang dituju kemungkinan Vietnam dan Thailand.Kedua negara itu dituju karena selama ini sudah memiliki perjanjian perdagangan beras dengan Indonesia. Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu kepada wartawan di sela-sela peresmian pembangunan tiga pasar tradisional di Solo yang dipusatkan di Pasar Kembang, Solo, Sabtu (24/2/2007) sore. Mari mengaku sejauh ini belum mendapat laporan terbaru tentang pola apa yang akan dipakai Bulog untuk pengadaan impor beras. Menurutnya baik pola business to business (b to b) maupun g to g memiliki kelebihan masing-masing. Namun pola g to g akan lebih mempermudah karena akan lebih cepat. "Bulog diberi waktu hingga akhir April untuk pengadaan impor tahap kedua sebesar 500 ribu ton beras. Kemungkinan impor adalah ke Thailand atau ke Vietnam. Kedua negara itu memiliki perjanjian perdagangan beras dengan Indonesia. Sehingga pola g to g akan lebih cepat," ujar Mari. Lebih lanjut Mari membantah adanya tudingan sejumlah pihak bahwa operasi pasar beras selama ini salah sasaran karena justru diborong oleh pedagang beras. Menurutnya memang ada target operasi pasar, salah satunya adalah pedagang besar. "Ada yang langsung di-drop ke pemukiman warga, ada yang didrop ke pedagang retail dan memang ada yang didrop ke pedagang besar yang akan langsung ke drop ke pedagang-pedagang retailnya. Ketiga menuju ke warga karena memang targetnya warga kecil," paparnya. Mari mengatakan, ada sejumlah tim yang mengawasi langsung operasi tersebut yang dikoordinasi oleh Bulog. Selain itu masing-masing Pemda juga memiliki cara pengawasan masing-masing agar tidak terjadi salah sasaran dalam operasi pasar beras. Dia juga mengaku belum mendapat laporan adanya mutu beras operasi pasar dan beras miskin (raskin) yang bermutu jelek. "Seharusnya beras IR 36. Tapi kami belum mendapat laporan penyimpangan. Kalau ada yang melihat penyimpangan mutu beras maupun salah sasaran, bisa laporkan ke saya," lanjutnya. (mbr/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads