Yuk, ke Pameran Distro
Selasa, 27 Feb 2007 13:12 WIB
Jakarta - Distributor Outlet (Distro) senantiasa berinovasi dengan produk yang khas dan eksklusif. Tak mau ketinggalan barang distro? Jangan lewatkan pameran para anak gaul di Departemen Perindustrian (Depperin).Pameran yang dibuka pada Selasa (27/2/2007) ini akan berakhir hingga 2 Maret mendatang. Pameran dibuka dari pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Bagi yang belum tahu, Depperin terletak di Jalan Gatot Subroto. Sementara pameran berlangsung di lobi Depperin.Pameran ini terselenggara atas kerjasama Depperin dan Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK).Dihari pertama pembukaan, lobi Depperin diserbu anak gaul. Mereka ingin melihat pameran dari 50 distro dari berbagai daerah. Pameran kali ini diikuti oleh 21 Distro dari Bandung, 21 dari Jakarta, 3 dari Surabaya, 4 dari Yogyakarta, 1 dari Semarang, 1 dari Padang dan 2 dari Makassar.Pameran Distro kali ini dimaksudkan untuk memfasilitasi kebutuhan kegiatan promosi bagi usaha kecil guna menunjang percepatan pasar. Distro-distro yang mengikuti pameran ini adalah yang dipilih oleh Depperin.Barang yang dipamerkan adalah produk khas distro seperti kaos, celana, jaket, topi, pin, tas sepatu, sandal, gesper, dompet dan kalung khas distro. Layaknya distro, harganya cukup mahal seperti misalnya kaos Rp 75-80 ribu, tas Rp 75-150 ribu, sepatu Rp 100-200 ribu-an, topi mulai dari Rp 30 rebu. Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Depperin Sakri Widianto yang membuka acara mengatakan, Depperin berjanji akan menjembatani antara KICK dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dalam memenuhi pasokan bahan baku. Karena para anak gaul pengelola distro ini ingin ekspor, Sakri berjanji akan mengajak mereka untuk ikut pameran di luar negeri.Sementara Menperin Fahmi Idris dalam pidatonya yang dibacakan Sakri mengatakan, perkembangan distro sudah sangat pesat dimulai dari kota Bandung pada tahun 1997. Saat itu, jumlah distro baru 6 unit. Namun dari tahun ke tahun, jumlahnya terus meningkat dan pada 2002 jumlahnya membengkak menjadi 300 unit. Saat ini, tercatat ada sekitar 700 distro di sejumlah kota di Indonesia. "Sayangnya, dari jumlah tersebut yang sudah mendaftarkan merek dan hak cipta baru 15 persen sehingga keunggulan kreatifitas mudah ditiru dan disalahgunakan pengusaha lain yang tidak bertanggung jawab," sesal Fahmi seperti dibacakan Sakri. Ia menambahkan, distro yang memiliki ciri khas unik dalam jumlah terbatas ternyata mempunyai volume usaha besar. Diperkirakan setiap bulannya dapat memproduksi 22 miliar barang dan sekitar 5 persen mampu untuk diekspor. Pasar yang bagus untuk barang-barang distro adalah Singapura, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Brunei, AS dan Hongaria.
(qom/ir)











































