Produksi Alas Kaki Seret

Produksi Alas Kaki Seret

- detikFinance
Rabu, 28 Feb 2007 15:39 WIB
Jakarta - Volume produksi alas kaki pada tahun 2006 turun mencapai 504 juta pasang turun 8,7 persen dibanding produksi tahun 2005 sebanyak 552 juta pasang.Tahun 2007 diperkirakan produksi akan kembali turun atau minimal mengalami stagnan jika tidak ada upaya dari pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi yang saat ini masih jauh dari ideal yang berkisar antara 65-70 persen.Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko dalam jumpa pers evaluasi kinerja industri alas kaki di kantornya, Jalan Tanah Abang III, Jakarta, Rabu (28/2/2007)."Konsumsi alas kaki di pasar domestik juga turun sekitar 8,55 persen dari 386 juta pasang di 2005 menjadi 353 juta pasang pada tahun 2006. Sedangkan penjualan turun lebih drastis dari Rp 17,7 triliun menjadi 12,3 juta," papar Eddy.Penurunan penjualan alas kaki disinyalir Eddy terjadi karena dua hal. Yakni lemahnya beli masyarakat dan serbuan barang ilegal dari Cina. Eddy mengharapkan tahun 2007 diharapkan daya beli dapat pulih sehingga konsumsi di pasar domestik bisa naik.Karena pasar domestik lesu, akhirnya produsen alas kaki melempar hasilnya ke pasar luar negeri. Ekspor menjadi tumpuan.Meski pertumbuhannya lambat, kinerja ekspor alas kaki nasional menunjukkan arah pemulihan. Tahun 2006 volume eskpor naik 12,10 persen dibanding tahun 2005.Ekspor tahun 2006 tercatat sebesar US$ 1,6 miliar meski jauh di bawah target 2006 3 miliar US$. Tahun ini ditargetkan US$ 1,8 miliar.Dari 10 negara tujuan ekspor, AS masih menjadi penyumbang devisa terbesar dengan pangsa 35 persen, disusul Inggris 9 persen, dan Belgia 7 persen. Jepang merupakan satu-satunya negara di Asia yang masuk 10 besar dengan pangsa pasar alas kaki Indonesia sebesar 6 persen. 5 perusahaan alas kaki terbesar saat ini yakni, PT Nikomas Gemilang dengan kapasitas produksi 9 juta pasang sepatu per tahun, PT Prima Inreksa Industry (7,8 juta pasang per tahun), PT Panarub Industry (7,2 juta pasang per tahun), PT KMK Global Sports (6 juta pasang per tahun), dan PT Hardaya Aneka Shoes Industry (6 juta pasang per tahun).Eddy mencatat hambatan terbesar yang dialami industri alas kaki adalah masa karantina bahan baku kulit impor yang dinilai terlalu lama yakni mencapai 5 hari. Kedua infrastruktur, ketiga pengurusan administrasi di pelabuhan yang lama, keempat masalah UU Ketenagakerjaan yang menghambat investasi, kelima maraknya sepatu impor dengan harga murah yang masuk secara ilegal. (ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads