Harga Minyak Diprediksi Bertahan di Level US$ 60
Selasa, 06 Mar 2007 13:10 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia pada April diprediksi bergerak pada kisaran US$ 60 per barel. Namun hal itu dengan catatan kondisi geopolitik di Iran tidak memanas."Harga itu sudah sudah memperhitungkan overheating Cina dan resesi di Amerika," ujar Gubernur OPEC untuk Indonesia, Maizar Rahman di kantor ESDM, Jakarta, Selasa (5/03/2007). Maizar memrediksi permintaan minyak dunia pada tahun ini akan bertambah 1,2 juta barel per hari (bph). Namun kenaikan permintaan itu akan diimbangi oleh produksi dunia yang diperkirakan bertambah 1,2 bph."Jadi pertambahan permintaan dan produksi sama atau tidak ada permasalahan. Walauapun ketat kemampuan suplai itu ada. Kalau permintaan meningkat OPEC bisa nambah, makanya orang tenang," ujarnya. Maizar menyatakan selama harga minyak masih sekitar US$ 60, maka APBN cenderung aman. Hal ini karena selisihnya tidak jauh beda dengan asumsi harga minyak APBN yaitu US$ 63. Jika harga minyak sekitar US$ 60, masih memungkinkan untuk proyek BBN (Bahan Bakar Nabati) bersaing. Namun jika harga minyak sudah dibawah US$ 55, dikhawatirkan BBN tidak bisa bersaing karena orang akan lebih memilih minyak. Apalagi harga kelapa sawit sedang meningkat. Namun jika untuk etahnol, masih bisa berjalan di harga minyak US$ 50.Maizar menambahkan, Indonesia mengusulkan kepada OPEC untuk me-roll over produksi minyaknya. Hal ini karena pemotongan produksi negara anggota OPEC sebelumnya sudah membuat suplai dunia ketat sehingga harga minyak dunia beranjak naik. "Karena harga minyak bagus US$ 60 per barrel kelihatannya nanti roll offer atau tetap seperti kemarin, jadi tidak ada pemotongan, tidak ada penambahan produksi. Jadi tetap pada tingkat produksi yang sekarang," ujarnya.Sebelumnya OPEC memang sudah melakukan pemotongan produksi terhadap 10 negara OPEC dari produksi September 2006 yaitu 27,5 juta barel per hari. Dari total pemotongan 1,7 juta barel per hari baru terealisasi 800 ribu barel per hari atau sekitar 66%. Dengan pemotongan itupun, sudah bisa menaikan harga minyak sampai US$ 60 bahkan sempat US$ 62 beberapa hari lalu.
(lih/qom)











































