Pasar Batik Indonesia Mulai Disalip Negara Lain

Pasar Batik Indonesia Mulai Disalip Negara Lain

- detikFinance
Rabu, 14 Mar 2007 12:38 WIB
Jakarta - Kondisi batik Indonesia makin memprihatinkan. Selain terganjal masalah produksi, pasar ekspor batik Indonesia juga mulai tersalip negara lain.Saat ini pembeli dari Eropa sudah mulai mengalihkan pesanan batiknya dari Indonesia ke Vietnam. Meskipun bukan buatan tangan (hand made), batik Vietnam yang menggunakan mesin canggih mulai dilirik pembeli karena menawarkan harga yang lebih murah."Yang dari Vietnam itu batik printing bukan hand made, tapi karena alatnya sudah canggih banyak pembeli yang tidak bisa membedakan," keluh Ketua Kadin Pekalongan, Umar Ahmad. Umar yang juga pemilik pabrik tenun Ranjang Gajah Pekalongan Indonesia, PT Ragatex, mengatakan hal itu disela-sela acara MoU Yayasan Kadin Indonesia dengan Yayasan Batik Indonesia, di Hotel Crown, Jakarta, Rabu (14/3/2007). Menurut Umar, pembeli batik Indonesia dari Timur Tengah, Asia dan Afrika juga mulai mencari batik yang lebih murah tanpa mengutamakan kualitas seiring pelemahan ekonomi dunia."Selama ini pembeli batik dari Prancis selalu mengeluhkan kepastian order dari Indonesia seperti harga, kualitas dan kepastian energi untuk produksi," kata Umar.Pengusaha batik kini masih mengalami kekurangan pasokan bahan baku. Akibatnya 40 persen ekspor tergerus karena pembeli merelokasi ordernya ke Vietnam. Sementara pasar dari dalam negeri tidak bisa diharapkan karena diserbu batik printing dari Cina. Nilai ekspor batik Indonesia mencapai US$ 100 juta per tahun. Sementara Ketua Pengurus Yayasan Kadin Indonesia Iman Sucipto menambahkan, dari segi ekonomi industri batik yang berada di 14 provinsi hampir seluruhnya UKM dan rumah tangga. Industri ini telah menyerap tenaga kerja langsung dan tidak langsung termasuk asongan dan pengecer sekitar 200 ribu jiwa, atau kurang lebih 1 juta orang keluarga. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads