Biofuel Menggeliat, Pengusaha Jarak Kebingungan

Biofuel Menggeliat, Pengusaha Jarak Kebingungan

- detikFinance
Sabtu, 17 Mar 2007 15:46 WIB
Jakarta - Industri bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel kini sedang menggeliat. Namun banyak pengusaha jarak masih kebingungan memasarkan produksinya yang merupakan salah satu pembuat BBN. Belum jelasnya aturan dari pemerintah mengenai pengembangan energi biofuel menjadi penyebab banyaknya pengusaha biji jarak lokal sulit melakukan pemasaran. Salah satunya adalah Avin (33 tahun) yang merupakan pengurus Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan Kalimantan Timur. Avin beserta teman-teman di pesantrennya, telah mencoba budidaya biji jarak untuk dijual sebagai energi alternatif di daerahnya."Tapi sampai sekarang saya belum tahu kemana akan memasarkan hasilnya, padahal saya sudah mengusahakan 12 hektar perkebunan jarak," ungkapnya. Untuk mencari jawabannya, Avin pun datang khusus ke acara Agrinex dan ikut serta dalam dialog mengenai biofuel di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (17/3/2007).Menjawab permasalahan ini, Unggul Proyanto dari Tim Nasional Biofuel mengatakan bahwa biji jarak dapat dijual ke pabrik-pabrik biodiesel. "Karena merekalah yang akan menggunakan biji jarak untuk diolah menjadi biodiesel," jelasnya.Akan tetapi masalahnya, tidak di setiap daerah terdapat pabrik pengolahan tersebut."Kami berencana membuat 10 Desa Mandiri Energi dan disitu akan disediakan mulai dari budidaya jarak hingga pengolahannya, jadi nanti PLN diharapkan akan membelibiodiesel sebagai pengganti solar untuk genset-genset mereka," tutur Unggul.Unggul mengatakan bahwa biji jarak tidak begitu saja bisa digunakan sebagai bahan bakar tanpa diolah lagi. "Jadi masyarakat juga harus memperhatikan hal ini, jangan hanya menanam saja," imbuhnya.Sementara ahli energi yang juga menjabat sebagai Komisaris Pertamina Umar Said mengatakan, bahwa Pertamina akan membeli minyak biji jarak yang sudah diolah sesuai aturan. "Harga pembeliannya adalah sama dengan harga solar curah di Singapura," ujarnya.Selain masalah pemasaran, pemerintah juga diminta secepatnya mengatur masalah persaingan harga biofuel dibandingkan bahan bakar fosil di pasar. "Pemerintah kita harus bersikap seperti di Thailand, dimana pemerintahnya membeli biofuel dengan harga yang pantas, dan dijual ke masyarakat dengan harga yang murah dibanding bahan bakar fosil sehingga industri biofuel meningkat," ujar Vice President PT Molindo Raya Industrial, Donny Winarno. (dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads