Rugi Akumulasi Inalum Capai US$ 900 Juta
Selasa, 20 Mar 2007 15:34 WIB
Jakarta - Perusahaan aluminium hulu patungan antara Jepang dan RI, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) mencatat akumulasi rugi sejak berdiri hingga tahun 2006 sebesar US$ 900 juta.Kerugian terjadi akibat depresiasi nilai tukar yen terhadap dolar AS. Mengingat pada saat pembangunan perseroan tahun 1976 membutuhkan dana 411 miliar yen, namun pembayarannya dalam kesepakatan dolar AS.Sehingga ketika terjadi depresiasi nilai yen terhadap dolar AS yang mencapai dua kali lipat dari harga pinjaman pembayaran sulit dilakukan karena utang terus bertambah dengan bunga per tahun 3-4 persen dari total biaya investasi awal.Utang tersebut nantinya akan ditanggung secara proporsional oleh Nippon Asahan Aluminium (NAA) yang memiliki 60 persen saham dan pemerintah yang memegang saham 40 persen.Nantinya utang sebesar akan diselesikan kedua belah pihak sebelum 2013 tergantung negosiasinya.Demikian disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Depperin Ansari Bukhari, disela-sela acara pameran gerabah dan anyaman dalam pengembangan industri kerajinan nasional di Lobi Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (20/3/2007).Meski demikian pada tahun 2006, Inalum mencatat laba US$ 100 juta. Kenaikan laba ini karena melonjaknya harga logam dunia dari harga tahun 2005 sebesar US$ 1.800 per ton menjadi US$ 2.400 per ton.Ansari juga menjelaskan, sesuai kesepakatan maka pada tahun 2013, Inalum akan diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan pada tahun 2010 akan dibahas apakah Inalum diteruskan atau dihentikan.Inalum memproduksi aluminium hulu dan merupakan satu-satunya pabrik aluminium hulu di Indonesia.Kapasitas terpasang mencapai 225 ribu ton per tahun. Namun tingginya permintaan tahun 2006 membuat utilisasi Inalum lebih dari 100 persen dengan produksi 250 ribu ton.Produksi Inalum sebanyak 60 persen diekspor ke Jepang dan sisanya untuk kebutuhan domestik. Namun Indonesia masih kekurangan pasokan aluminium yang mencapai 200 ribu ton sehingga sisanya masih impor. Bahan baku berupa alumina 100 persen masih diimpor dari Australia.
(ir/qom)











































