RI Masih Dibayangi CGI
Kamis, 22 Mar 2007 12:28 WIB
Jakarta - Meski forum Consultative Group on Indonesia (CGI) sudah dibubarkan namun Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang CGI untuk kepentingan utang luar negeri dalam membiayai defisit anggaran.Pembiayaan dalam negeri seperti penerbitan Surat Utang Negara (SUN) tidak dapat langsung menggantikan pembiayaan utang luar negeri.Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi dari UGM, Tony Prasetiantono dalam diskusi tentang pembubaran CGI dan masalah pembiayaan defisit di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (22/3/2007)."Skema CGI tidak serta merta dapat digantikan secara utuh dengan penerbitan obligasi pemerintah. Karena sudah tidak ada lagi CGI, maka bisa diteruskan melalui skema bilateral," ujarnya.Pembubaran CGI merupakan hal yang logis karena banyak kreditor di dalamnya yang tidak signifikan, namun diberi hak atau previlidge yang sama dengan tiga kreditor utama yaitu Jepang, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia (ADB).Jika dibandingkan pembiayaan dari CGI dan obligasi pemerintah, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. CGI memiliki tingkat bunga yang rendah hanya 2-3 persen, sementara obligasi pemerintah bunganya mencapai 6,75-10 persen.Namun dari bentuk utang, maka utang CGI mayoritas berupa barang dan jasa, dan obligasi pemerintah berupa dana segar.Pengamat ekonomi lain Iman Sugema menilai, pembiayaan dari dalam negeri masih menguntungkan dibandingkan melalui CGI karena akan menciptakan multiplier effect di dalam negeri. Utang CGI yang mayoritas berupa barang dan jasa tidak memberikan keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.Bahan baku yang dari luar negeri yang digunakan dalam pinjaman tersebut dapat mencapai 97 persen."Jadi tidak ada hubungannya antara pinjaman luar negeri dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, karena sebagian besar barang dan jasa itu dari kreditor," ujarnya.
(ddn/ir)











































