AS Penyumbang Polusi Terbesar, Indonesia Peringkat Keempat

AS Penyumbang Polusi Terbesar, Indonesia Peringkat Keempat

- detikFinance
Jumat, 23 Mar 2007 18:30 WIB
Jakarta - Bicara mengenai polusi, ternyata negara negara-negara maju merupakan penyumbang polusi tersebsar di dunia. Amerika Serikat menyumbang polusi terbesar.Hal tersebut disampaikan ahli lingkungan hidup dari Inggris Sir Nicholas Stern, dalam sebuah seminar mengenai pemanasan global dan dampaknya bagi ekonomi yang digelar oleh Bank Dunia, Gedung Bursa Efek Jakarta, Jumat (23/3/2007). "Peringkat pertama adalah Amerika Serikat, kedua negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa dan yang ketiga adalah negara Cina, ketiganya menyumbang polusi emisi energi," ujarnya. Tapi yang anehnya, ternyata Indonesia masuk daftar no.4 penyumbang polusi di dunia. Untuk Indonesia sendiri, menurut hasil penelitian Stern, polusi dihasilkan akibat dampak pembakaran hutan yang seringkali terjadi. "Jika hal ini tidak segera dicegah, maka akan terjadi perubahan iklim yang menyebabkan banyak hal seperti penurunan hasil panen di banyak daerah," jelasnya. Menanggapi hal tersebut, menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar yang turut hadir mengakui bahwa memang selama ini masalah lingkungan hidup masih menjadi masalah nomor belakang di dalam perhatian pemerintah. "Seperti yang kita tahu bahwa yang menjadi concern pemerintah adalah masalah pendidikan, kesehatan dan juga kemiskinan, lingkungan hidup masih dianggap kurang penting, berbeda dengan negara-negara maju di mana mereka tidak perlu lagi memikirkan hal ini dan bisa fokus kepada lingkungan hidup," urainya. Meskipun begitu, Rahmat mengatakan bahwa tahun ini pemerintah mulai memberikan perhatian lebih kepada masalah lingkungan hidup terutama kebakaran hutan. "Tahun ini kami targetkan ada perbaikan 40-60 persen kebakaran hutan yang terjadi, dan yang diperlukan untuk itu adalah suatu kedisiplinan dari masyarakat," ujarnya. Stern menambahkan, untuk ke depannya dana yang akan disisihkan oleh negara-negara di dunia untuk menangani masalah polusi ini dengan penerapan teknologi yang ramah lingkungan adalah sebesar 1% dari total GDP dunia atau sekitar US$ 400 miliar. "Tapi akan ada tambahan dari negara-negara maju sekitar US$ 10-15 miliar untuk membantu negara-negara berkembang dalam penerapan teknologi yang ramah lingkungan," ujarnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads