Sering Berseteru dengan Menteri Lain, Menperin Ditegur

Sering Berseteru dengan Menteri Lain, Menperin Ditegur

- detikFinance
Rabu, 04 Apr 2007 13:20 WIB
Jakarta - Menteri Perindustrian Fahmi Idris dikenal sering berseteru dengan menteri lain. Anggota DPR gerah dibuatnya. Fahmi pun diminta berdamai dengan menteri lain.Permintaan anggota Komisi VI DPR RI, yang merupakan mitra dari Depperin itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (4/4/2007).Acara kunjungan di Ruang Garuda, Gedung Depperin itu berlangsung bak rapat dengar pendapat di DPR. Dari pihak Depperin juga diminta mempresentasikan bahan tentang kinerja industri. Sayangnya, masalah yang dibahas itu-itu saja, alias basi. Yang terbaru paling sorotan DPR soal perseteruan antara Fahmi dengan menteri lain seperti Menneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Mendag Mari Pangestu dan Menkeu Sri Mulyani."Saya baca di pers yang mencuat pak Fahmi ini selalu saja berantem dengan menteri lain. Sama Mendag, Sama Mennegkop UKM dan yang terakhir Menkeu. Lalu hasilnya mana, ribut-ribut itu," kata anggota Komisi VI Zulkiflimansyah.Atas kritikan tersebut, Fahmi menegaskan bahwa yang dilakukannya adalah karena ada penyimpangan. Ia mencontohkan perseteruannya dengan Suryadharma terkait tender kompor. Awalnya, tender kompor diputuskan untuk 1 mata tungku. Namun tiba-tiba Suryadharma mengumumkan 2 tungku."Ini gimana? Akhirnya kita adakan pertemuan bersama dan akhirnya ditender ulang dua mata tungku. Ini kan ada penyimpangan," ketusnya."Saya nggak mau lagi ribut-ribut. Ribut-ribut itu bikin stres," imbuh Fahmi. Wakil Ketua Komisi VI Agus Hermanto pun memberi kritikan dan saran kepada Fahmi. "Saya tahu antar menteri itu ada konflik. Saya minta itu diselesaikan oleh pemerintah sendiri, apapun itu masalahnya karena kami sangat concern melihat keributan itu," ujar Agus prihatin.Ketua Komisi VI Didik J Rachbini menambahkan bahwa masalah koordinasi antar menteri menjadi isu krusial. "Justru masalah itu yang menciptakan pemerintah sendiri. Misalnya, konversi minyak tanah ke gas, tapi gasnya kok nggak ada?" kritiknya. Untuk pertanyaan tentang gas, Fahmi pun malah berkeluh kesah tentang minimnya pasokan gas dalam negeri. Departemen ESDM dan PGN dinilai Fahmi belum memberi komitmen yang kuat untuk memasok gas dalam negeri.Padahal sejumlah industri besar seperti produsen keramik Royal Doulton sudah menyatakan komitmennya untuk merelokasi pabriknya di Inggris dan Jerman ke Indonesia. "Ketika dia datang, saya hubungi kawan-kawan seperti ESDM dan PGN. Mereka bilang oke, ternyata malah tidak oke. Jujur sekarang saya stres ketemu Royal Doulton karena masalah ini," curhat Fahmi.Acara curhat ini pun berakhir dengan tukar cindera mata, tanpa kesimpulan yang memuaskan. (qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads