RI Waspadai Lambatnya Pertumbuhan Ekonomi Global
Selasa, 10 Apr 2007 12:26 WIB
Jakarta - Pemerintah bersiap mewaspadai perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Perlambatan tersebut akan meningkatkan risiko terhadap berbagai kebijakan makro ekonomi Indonesia."Dengan pertumbuhan ekonomi global yang melambat di tahun ini, resiko kebijakan makro akan semakin meningkat akibat arus modal yang akan mengalir deras di kawasan ASEAN termasuk Indonesia," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani.Ia menyampaikan hal itu dalam acara temu wartawan di Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (10/4/2007). Sri Mulyani menambahkan, Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (BI) telah bekerjasama untuk mencari cara untuk menghadapi masalah tersebu mengingat kompleksitas dalam penetapan kebijakan makro ekonomi. "Derasnya arus capital inflow akan menyebabkan uang beredar di Indonesia akan meningkat, dan ini harus diawasi oleh BI," ungkapnya. Jika hal ini terjadi, lanjutnya, maka Rupiah nantinya akan menguat dan hal ini akan berpengaruh kepada penurunan ekspor. "Selain itu, capital inflow ini akan meningkatkan cadangan devisa kita, dan tantangannya adalah bagaimana kita dan BI merestruktur dana tersebut dengan sebuah infrastruktur fund yang harus dipersiapkan," ujarnya. Menkeu mengatakan bahwa untuk menghadapi hal ini, pengelola kebijakan makro baik Depkeu maupun BI harus waspada dan terus-menerus memantau komponen kebijakan makro. "Hal ini juga menjadi tantangan kebijakan makro di kawasan ASEAN," ujarnya. Bank Dunia dalam laporannya menyebutkan, pertumbuhan ekonomi global akan melambat khususnya di Amerika Serikat sebagai penyetir utama perekonomian global. Bank Dunia juga mengatakan bahwa regional Asia akan melindungi wilayahnya agar tidak terkena dampak ini. Menanggapi laporan tersebut, Sri Mulyani mengatakan bahwa untuk mencegah dampak perlambatan ekonomi global, negara-negara ASEAN berikut tambahan Cina, Jepang dan Korea Selatan akan meningkatkan kerjasamanya. "Terutama untuk mengendalikan arus barang dan investasi di kawasan ASEAN, dan juga mempercepat integrasi di pasar modal dan pasar uang dari 2020 menjadi 2015, untuk menjaga kinerja PDB yang pada 2006 sebesar 5,9%, atau lebih tinggi dari PDB dunia yang sebesar 5,1%, " imbuhnya.
(dnl/qom)











































