79 Lembaga Belum Inventarisir Aset, Bisa Rugikan Negara
Kamis, 12 Apr 2007 14:35 WIB
Yogyakarta -
Hingga saat ini, baru enam lembaga, instansi dan departemen yang telah melakukan inventarisasi aset. Sebanyak 79 lembaga belum melakukan inventarisasi sehingga berpotensi menimbulkan kerugian negara akibat tidak jelas pertanggungjawabannya.Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Drs Didi Widayadi MBA seusai menghadiri pelantikan Kepala BPKP Provinsi DIY di Bangsal Kepatihan Kantor Gubernur DI Yogyakarta di Jl Malioboro, Kamis (12/4/2007)."Ini memang sangat memprihatinkan karena sudah lebih dari 60 tahun Indonesia merdeka, ternyata belum semua lembaga negara melakukan inventarisasi aset mereka," kata Didi.Dia mengataan dari sekitar 79 lembaga atau departemen yang ada, baru enam saja yang sudah melakukan inventarisisasi aset. Akibatnya BPKP seringkali mengalami kesulitan bila melakukan pemeriksaan dan inventarisasi.Menurut dia, selama pemerintahan Presiden SBY, aset negara yang berhasil diselamatkan oleh BPKP sebesar Rp 30 triliun. Angka itun sebagian besar berasal dari berbagai sumber termasuk penindakan kasus korupsi yang dilaporkan ke Kejaksaan, KPK dan Kepolisian."Sekarang ini BPKP bersama BPK, KPK dan lembaga yang lain akan terus berusaha agar kekayaan negara tidak lari. Tujuannya meminimalisasi moral hazard atas kemungkinan terjadinya penyimpangan serta kerugian negara yang semakin banyak," katanya.Dia menambahkan sampai saat ini, BPKP seringkali menyatakan disclaimer atas laporan keuangan yang dibuat oleh lembaga atau departemen negara. Sebab banyak departemen yang belum melakukan inventarisasi aset yang harus dimasukkan dalam laporan keuangan yang disusun.Menurut dia, kesulitan sekarang ini adalah membuat laporan keuangan yang baik kalau dalam menyusun neraca awal tapi platform aset atau kekayaannya ternyata tidak dimiliki dalam laporan. "Kita butuh pertaubatan nasional untuk memperbaikinya. Jangan menyalahkan aparatur sebelumnya tapi aparat yang sekarang harus mau melakukan inventarisasi aset yang ada," demikian Didi.
(bgs/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































