Ekspor Kulit Harus Distop!
Kamis, 12 Apr 2007 15:26 WIB
Jakarta - Ekspor kulit harus dihentikan mengingat produsen sepatu dalam negeri tengah kekurangan pasokan kulit. Namun jika ekspor tetap diperbolehkan, maka cara lain untuk membatasi ekspor adalah dengan menaikkan pungutan ekspor (PE) kulit."Kebutuhan kulit untuk industri dalam negeri belum tercukupi," ujar Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) Jawa Timur, Sutan RT Siregar dalam pameran Global Shoes and Accesories di Hotel Grand Hyatt, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (12/4/2007).Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, perdagangan alas kaki dunia tumbuh 9,88 persen per tahun. Cina tetap merajai perdagangan alas kaki dunia. Meski merupakan pemain baru, Vietnam sudah jauh meninggalkan Indonesia.Kebutuhan alas kaki dunia saat ini mencapai 3,98 miliar pasang atau senilai US$ 47,8 miliar per tahun. Cina kini menguasai pangsa pasar 69 persen, disusul Italia 8 persen, Brasil 7 persen, Vietnam 6 persen, Indonesia 3 persen, dan negara lainnnya 7 persen.Ekspor alas kaki terus meningkat dan pada kurun waktu 2002-2006 mencapai pertumbuhan rata-rata 8,79 persen per tahun. AS masih menjadi negara tujuan ekspor Indonesia yang paling besar dengan pangsa pasar 39 persen per tahun.Sutan mengatakan produk Indonesia di pasar ekspor tidak terpengaruh produk murah dari Cina dan Vietnam karena alas kaki Indonesia telah memiliki pasar sendiri.Menurut produsen sepatu Yongki Komaladi, terjadi kompetisi ketat di dalam negeri untuk karena banjirnya merek dari luar negeri.Produk lokal saat ini masih memiliki kelemahan dalam segi kualitas dan servis, tidak adanya bantuan dari pemerintah seperti perlindungan dari serbuan produk luar negeri. Konsumen lokal pun kurang mengenal merek dalam negeri.
(ddn/qom)











































