Fahmi: Awas Kelangkaan Baja
Jumat, 13 Apr 2007 13:41 WIB
Jakarta - Alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur pada APBN 2008 meningkat menjadi Rp 56,2 triliun, lebih besar dari anggaran yang dialokasikan pada APBN 2007 sebesar Rp 41,7 triliun. Pembangunan infrastruktur akan meningkatkan permintaan baja dalam negeri. Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris memperingatkan adanya kelangkaan baja. Soalnya saat ini saja produksi baja masih minus dibandingkan kebutuhan.Hal tersebut disampaikan Menperin Fahmi Idris di sela-sela Forum Koordinasi BUMN di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (15/4/2007)."Total produksi baja masih di bawah total konsumsi, ditambah lagi dengan program ini (infrasturuktur), maka konsumsi akan semakin meningkat, sehingga dikhawatirkan ada kelangkaan. Tapi hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena berbagai negara telah over supply," ujarnya.Ketua Umum Gapbesi (Gabungan Pabrik Besi Baja Seluruh Indonesia) Daenul Hay memperkirakan permintaan baja untuk pembangunan infrastruktur pada tahun 2008 akan tumbuh 7 persen atau sebesar 442 ribu ton. Secara rata-rata per tahun industri dalam negeri membutuhkan 6 juta ton baja.Namun Dirut PT Krakatau Steel (KS) ini yakin peningkatan permintaan baja itu dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri mengingat ada 134 perusahaan baja dalam negeri. KS dapat memasok baja lembaran panas sebanyak 65 persen dan baja lembaran dingin sebanyak 50 persen dari total kebutuhan baja.Tekait dengan permintaan produsen baja untuk mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap baja impor akan berdampak turunnya pasokan baja impor ke Indonesia.Importir takut apabila BMAD dikenakan maka importir akan menanggung karena biasanya BMAD itu berlaku surut. Produsen sendiri sudah meminta pemerintah mengenakan BMAD sejak Maret 2006, namun sampai sekarang pemerintah belum memutuskan "Apabila tidak dikenakan BMAD, baja impor akan semakin menguasai pasar dalam negeri," ujarnya.Daenul memperkirakan pada tahun 2005 baja impor nilainya US$ 3,1 juta, tahun 2006 meningkat menjadi US$ 3,7 juta. "Setelah media massa memuat isu BMAD saya tidak mendengar lagi ada baja impor masuk di pelabuhan seperti Surabaya atau Medan," ujarnya.
(ddn/ir)











































