RI Dilanda Booming Batubara
Sabtu, 14 Apr 2007 13:43 WIB
Jakarta - Ledakan pertumbuhan (booming) batubara akan segera melanda Indonesia, seiring makin meningkatnya permintaan batubara untuk energi global terutama akibat pertumbuhan ekonomi di Cina dan India.Diperkirakan kedepannya Indonesia akan menjadi eksportir terbesar batubara thermal global menyalip Australia yang selama ini dikenal sebagai eksportir terbesar."Kebanyakan pelaku industri batubara percaya Indonesia baru memulai langkah untuk menjadi eksportir batubara thermal terbesar," kata Managing Director Churchill Mining, Paul Razak seperti dikutip dari Oxford Business Group, Sabtu (14/4/2007).Menurutnya Indonesia memiliki keuntungan infrastruktur transportasi batubara dibanding pesaing eksportir batubara lainnya. Indonesia secara geografis juga diuntungkan karena dekat dengan pembeli batubara terbesar seperti Cina, India, Korea Selatan dan Jepang."Hal ini memberikan keuntungan bagi Indonesia dan perusahaan-perusahaan batubara Indonesia dari segi pengapalan dan harga dibanding kompetitor besar lainnya seperti Australia," ujarnya.Indonesia juga diuntungkan oleh kondisi pesaingnya yang sedang kurang kompetitif. Ketua Australian Competition and Consumer Commision, Graeme Samuel mengatakan, saat ini Australia mengalami permasalahan penundaaan di pelabuhan utamanya yang diperkirakan baru akan selesai Juli 2007. Hal serupa juga terjadi di negara eksportir batubara ketiga terbesar yakni Afrika Selatan yang sedang dilanda hujan berat.Tingginya permintaan Cina dan India tersebut juga mendorong investor dari kedua negara melirik Indonesia sebagai lahan invetasi dibidang batubara.Selain Tata Power yang telah memiliki 30 persen saham di KPC dan Arutmin milik Bumi Resources, perusahaan pemakai terbesar batubara di India NTPC juga telah mengumumkan sedang mempertimbangkan untuk mengakuisisi tambang batubara Indonesia. China National Technical Import and Export Corporation juga telah mengumumkan akan menginvestasikan US$ 430 juta untuk membangun pembangkit listrik batubara sebesar 600 MW.
(ard/ir)











































