Batubara Cair Belum Diminati

Sudah Dibanjiri Insentif

Batubara Cair Belum Diminati

- detikFinance
Senin, 16 Apr 2007 11:12 WIB
Jakarta - Proyek batubara cair hingga kini belum juga mendapatkan investor. Padahal berdasarkan Peraturan Presiden No.5/2006, batubara cair pada 2025 harus memberi kontribusi sebesar 2% dari kebutuhan energi nasional. Hal ini disampaikan Staff Ahli Menteri Bidang Kewilayahan dan Lingkungan Hidup Departemen ESDM Lobo Balia usai mengisi Indonesian Coalaboration 2007 di Sangri-la, Jakarta, Senin (16/4/2007). "Dua tahun lalu Bumi (Bumi Resources) sudah mau masuk, tapi mundur lagi. Mana saya tahu kenapa," ujarnya. Meski menyatakan bahwa bisnis ini ekonomis, namun Lobo tidak menjelaskan lebih mengapa belum ada investor yang berminat. Padahal, menurutnya, pemerintah sudah terus menawarkan berbagai macam insentif. Diantaranya adalah kemungkinan penurunan royalti yang harus dibayarkan ke pemerintah. Untuk membuat satu pabrik dengan kapasitas batubara cair 150 ribu barel per hari, dibutuhkan investasi hingga Rp 20-30 triliun. Di pabrik inilah, setiap ton batubara padat bisa dikonversi menjadi 2-3 barel minyak. Lobo melanjutkan, untuk membangun pabrik pencairan batubara disarankan di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki cadangan yang besar. "Sumatera Selatan jauh lebih baik," ujarnya.Selain pencairan, pemerintah juga menggalakkan gasifikasi batubara. Hanya saja, proyek ini sudah berkembang lebih maju. Pupuk Kujang sedang bekerjasama dengan Badan Litbang DESDM untuk percobaan gasifikasi batubara dengan teknologi dari Jepang. "Nantinya akan digunakan untuk pasokan Kujang sendiri," tambah Lobo. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads